TELAT DITELAN SESAL
Ketika malam larut mengkerutkan lelapnya, ketika malam beribu kesucian bertabur bersamanya. Ketika itu pula sesuatu terjadi pada ku, kekesalan-kekesalan dan penyesalan. Sebuah barang kesayangan dan pemberian kakakku tersayang, hilang di telan jari-jari manusia tak tahu diri. Aku tersadar ketika mata terbuka bersama dingin hawa pagi, ketika subuh dapat kembali ku nikmati. Kejadian lama terulang kembali. Ucapan yang keluar dai mulut, suara dari gesekan lidahku yang kaku. Ku lihat pintu terbuka seper empat, kunci yang tak ku fungsikan tergeletak di jendela jarak lima centi, lenyaplah pula ditelan jari-jari tak tahu diri.
Sedikit ku jelaskan kejadian yang tak pernah ku duga. Ketika tak sedikit manusia bergembira menikmati suasana malam jum’at di sebuah makam ulama’ yang dulu aku pernah menjadi anak yang dapat menikmati sedikit dari karya-karyanya. Yah! Kyai Hasyim. Teladan yang selalu ingin ku tiru, tapi tak mampu dan tak mampu aku merujuk. Terlalu jauh ku bercerita tanpa guna.
Kembali, sesal tinggallah sesal, dan tak mungkin dapat kembali kenikmatan-kenikmatan yang ku senangi. Walau jelas tersirat dalam firman-Nya “barang siapa yang tabah dalam menghadapi ujian, akan diganti nikmat yang lebih besar dari itu”. Tapi hatiku terlalu keras, sekeras batu yang terlapis baja, tak mampu ku memecahnya dengan kesejukan dan keiklasan.
Lambat ku teruskan cerita duka saat itu. Beribu sedih bertabur tawa penyesalan, mengiringi nafasku yang terasa sesak, oleh polusi-polusi ketidak berdayaan, oleh segudang ratap tangis air mata haru, saat teringat amanah sang kakak yang jauh merantau demi aku, adik dan sebaris nama keluarga besar yang tak terlalu besar.
Biarkan aku nikmati, usaha diri pada sang Ilahi Robbi, doa dan harapan atas kembalinya barang titipan yang ku lalaikan, ditelan jari-jari tak tahu diri. Ku berdoa “Tuhan biarkan aku tahu siapa dia, yang mempunyai jari-jari tak tahu diri, ku harap Engkau beri sedikit bocoran lubang kecil masa lalu, memutar gilingan roda nasib yang telah terlewat tak jauh dari hari, hari dimana terlalu suci dan dimana hari terlalu ngeri. Hanya permohonan dan harapan yang dapat ku andalkan, dari-Mu sang Tuhan berbelah kasih, berkasih pada permintaan yang pasti akan Kau kabulkan”.
Aku tahu, seberapa kotor diriku, berlumur lumpur-lumpur dosa yang tak pernah ku bersihkan, berlumur debu-debu yang tak pernah ku sapu, tapi apakah Engkau melihat dari rusuhnya jiwa, busuknya hati yang tak mungkin terhindar dari semua itu. Tidak, Engkau tak seperti itu, Engkau tetaplah Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Memberi pada setiap mahkluk.
Doaku, ku ucapkan sepenuh hati, sekuat tenaga ku gerakkan lidah yang kaku dan beku ini, untuk dapat Ridlo dari-Mu. Bantulah aku Tuhan.
By : Teater Mbureng.



0 Coment:
Posting Komentar