Teater Mbureng IKAHA.
Kritisi Realitas Sosial Lewat "JUM"
Tebuireng- Materi bukan satu-satunya parameter kebahagiaan. Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh Teater Mbureng IKAHA dalam sebuah pertunjukan bertajuk “JUM” yang digelar di Auditorium IKAHA, Jumat (27/5).
Diceritakan, sebuah kenyataan terungkap ketika Juminten anak seorang janda ditawari pekerjaan oleh seorang perempuan kaya. Usut punya usut, ternyata si perempuan kaya tersebut adalah rentenir yang telah merenggut harta orang tua Jum. Kemiskinan itulah yang pada akhirnya menjadi bia
ng kematian bapak Jum.
Teater “Jum” ini diakhiri dengan antiklimak, Juminten tidak menerima tawaran tersebut, dan memilih tetap berada di sisi emaknya. Kisah itulah yang ditampilkan oleh Teater Mbureng IKAHA dengan melibatkan lakon perempuan itu.
Assaqie Anas, sutradara JUM menuturkan, ide tersebut melihat dari realita sehari-hari. Menurutnya, Seseorang cenderung menerima pekerjaan apasaja tanpa melihat apakah pekerjaan itu baik atau tidak. Hal itu, sambung Assaqie, tiada lain untuk mengejar materi belaka. “Namun pada kenyataannya kebahagiaan tidak terlihat dari banyaknya uang yang dimilikinya,” ungkap pria jangkung ini.
Assaqie menambahkan, JUM juga menjadi kritik terhadap sistem rentenir yang seringkali memanfaatkan kelemahan orang-orang miskin untuk mengeruk keuntungannya sendiri. “Saya harap teater ini bisa menjadi refleksi bagi teman-teman yang hadir,” katanya.
Lewat pertunjukan realis, JUM menuturkan cerita dan alur secara gamblang. Menurut Assaqie, teater realis akan lebih mudah dipahami penonton yang sebagian besar pelajar. Tak jarang, Penonton terbahak mendengar celetukan dan peran dalam pertunjukan tersebut.
Pementasan “JUM”, sambung Assaqie, merupakan ajang aktualisasi diri teater Mbureng dan diselenggarakan untuk mengasah kepiawaan anggota berlakon dalam teater. “Selain itu, juga menjadi ajang silaturrahmi beberapa kawan teater atau mereka yang tertarik dengan pertunjukan teater,” ujarnya.
By:Kholil-Gibran@in.com



0 Coment:
Posting Komentar