Rabu, 27 Juli 2011

Nafas dari kaleng

NAFAS DARI KALENG .

Kaleng kaleng tergantung di tiang-tiang lampu. Sedikit bergerak terbawa angin yang berhembus. Riuh bunyi yang keluar dari kaleng-kaleng itu, pertanda tersiksa akan tali yang menjeratnya. Tak lama berselang gerimis menetes dari langit, setetes demi setetes air penuhi kaleng-kaleng yang terikat.
Kaleng-kaleng menengadahkan sendu di pinggir-pinggir jalan kota. Bersama renta rapuh tua manusia-manusia berbaju kumuh. Secara bergilir mengangkat kaleng-kaleng yang mereka tunggu, menunggu nasib baik dan belah kasih orang-orang yang melewatinya. Begitulah keseharian mereka bercucur keringat di seluruh badannya.
Tepat di pojok jalan tol duduk seorang nenek paruh baya dengan kaki pincangnya, ditemani sebuah kaleng bekas susu yang hanya terisi seratusan rupiah berjumlah tiga belas.
Nenek : tumben jam segini kok baru dapat sedikit, biasanya siang begini aku sudah
dapat uang untuk makan dengan Ijah. Ah, mungkin memang hari ini hari yang buruk, kurang beruntung. Kasihan Ijah dari tadi malam belum makan.
Ijah : nek nek, sudah dapat uang belum, Ijah sudah lapar nek.
Nenek : tenanglah ijah, kamu sabar dulu ya, nenek baru dapat seribu tiga ratus
(menunjukkan isi kaleng), sebentar lagi pasti dapat diatas dua ribu, kalau sudah dua ribu kamu ambil saja.
Ijah : yah nenek! Tapi aku sudah lapar
Nenek : iya, nenek tahu, nenek juga belum makan. Sudahlah, kamu main dulu saja, nanti
kalau sudah dapat uang, nenek belikan nasi.
Ijah : nek…..nek! tiap hari main, tiap hari main, aku bosan nek. Begini saja,
mendingan nenek pulang, mulai sekarang biar Ijah yang kerja, Ijah sudah kan sudah gede!
Nenek : Ijah…..! nenek tidak mau kamu kehilangan masa mudamu hanya demi nenek.
Yang penting sekarang kamu nikmati masa mudamu, cari pengalaman yang banyak. Nanti kamu ada saatnya membantu nenek.
Ijah : ah nenek selalu begitu, Ijah sudah besar nek, Ijah sudah banyak menghabiskan
waktu muda, Ijah sudah gede, sekarang saatnya bekerja dan nenek istirahat di rumah.
Nenek : Ijah, nenek tahu kamu ingin membahagiakan nenek, tapi nenek masih kuat
bekerja, dan nenek ingin supaya kemu tidak mengisi masa kecil, masa mudamu dengan bekerja banting tulang. Sudahlah, kamu main atau kemana cari pengalaman yang banyak.
Ijah : siapa sih orang yang tega melihat neneknya bekerja, sedangkan aku hanya
bersenang-senang, main, keluyuran. Kini saatnya aku yang bekerja dan nenek yang istirahat menunggu Ijah datang dengan membawa makan, merawat nenek, menyayangi nenek.
Nenek : nenek tahu Ijah, kamu berniat seperti itu saja nenek sudah seneng, apalagi
merawat dan menyayangi nenek, itu lebih dari cukup. Sekarang, lebih baik kamu pulang, ya Ijah!
Ijah : nggak, nggak mau, ijah mau tetep di sini. Ijah nggak mau pergi sebelum nenek
berjanji nggak bekerja lagi.
Nenek : Iya….iya…..! nenek mengijinkan kamu bekerja, tapi bukan sekarang, nanti ada
waktunya.
Ijah : nenek ini bagaimana sih, sudah jelas-jelas Ijah pingin nyenengin nenek, selalu
saja nenek begitu. Ijah sudah gede nek Ijah nggak mau lagi nyusahin nenek. Sekarang terserah nenek, Ijah mau kerja (Pergilah Ijah meninggalkan neneknya tanpa kata)
Nenek : Ijah….kamu mau kemana? Ijah…Ijah…..! Kemana kamu nduk…..! nenek tahu
kamu ingin meringankan beban nenek, tapi kamu masih muda, nenek tidak mau kamu kehilangan masa mudamu hanya karena nenek. (lampu padam perlahan)

Hari berganti terus merambat, tak terasa sudah tiga bulan Ijah meninggalkan nenek, tanpa pesan tanpa kabar, tanpa berita. Semua berlalu tanpa tepi yang jelas. Buram bagai embun, gelap bagai malam.
Disuatu saat ketika nenek berdiam duduk menengadahkan kaleng bekas susunya, tiba-tiba lewatlah seorang mengisi kaleng itu.

Nenek : terima kasih……!
Nenek : sudah dapat berapa ya? Sepertinya sudah banyak, (Menghitung uang di kaleng)
satu, dua, tiga. Seribuan, satu, dua, tiga, empat, wah bayak sekali pendapatanku hari ini. Seandainya Ijah mash bersamaku, pasti dia seneng, tapi kemana dia perginya, sudah lima bulan lebih belum ada beritanya (lewatlah Ijah dengan Make-Up menor dan nenek menolehnya) sepertinya itu Ijah….! Ijah….ijah!
Ijah : ada apa nek?
Nenek : kamu Ijah kan? Waduh……!
Ijah : iya, memangnya kenapa?
Nenek : kamu kemana saja jah…..? nenek kangen sekali?
Ijah : hus…..hus…..! jangan megang-megang, najis tahu.
Nenek : kamu kok ngomong begitu sih jah?
Ijah : memangnya kenapa? Kita sudah tidak ada hubungan lagi, sejak dulu, aku sudah
memilih jalanku sendiri. Nenek tetep saja seperti itu, itukan kemauan nenek, ngemis, ngemis dan ngemis.
Nenek : kamu kok ngomong begitu jah, apa kamu masih marah dengan kelakuan nenek
waktu itu, nenek Cuma mau
Ijah : sudah diam, aku tahu nek, tapi aku sudah dewasa, bukan anak kecil lagi, yang
setiap saat hanya di isi main, main dan main. Akukan dulu sedah bikang, aku ingin kerja, aku ingin nyenengin nenek, tapi kenapa nenek menolak, malah menyuruhku pulang?
Nenek : ya sudah, nenek minta maaf, nenek berikan kebebasan buat kamu Ijah
Ijah : sedah terlambat, Ijah sekarang sudah kaya, kemana-mana selalu bawa duit, duit
dan duit banyak sekali, hasil kerja keras aku sendiri. Enak saja, sekarang nenek mau memberi kebeasan buak aku. Nek sejak keputusan nenek dulu, Ijah sudah bebas, merasakan kenikmatan surga dunia dengan harta yang berlimpah. Jadi jangan coba-coba mengganggu Ijah lagi, teruskan ngemismu, aku masih banyak kerjaan.
Nenek : Ijah, kurang ajar sekali kamu, dari bayi ibumu pergi, meninggalkan kamu, siap
yang merawat? Nenek jah, bapakmu juga begitu, minggat tanpa memberi tahu kemana, bertahun-tahun nenek rawat kamu, mencari makan buat kamu, sekarang kamu lupa dengan semua itu
Ijah : diam, salah siapa nenek dulu mau merawat Ijah, seandainya Ijah disuruh
memilih, Ijah tak pernah memilih hidup, orang tua nggak jelas, pendidikan nggak jelas, makan dari uang apa nggak jelas, apa gunanya hidup nek, kalau kenikmatan, kebahagiaan semua hanya hayalan saja. Aku sekarang sudah dapatkan impian-impian masa kecilku dulu, kaya dan terhormat. Aku merasa iri dengan orang-orang yang kemana-mana naik mobil, pesawat, naik
Nenek : apa gunanya semua itu, apa hidup hanya mencari kekayaan? Apa hanya ingin
kemana-mana naik mobil? Ijah, hidup itu sementara, masih ada kehidupan yang lebih kekal. Buat apa kalau di dunia mulia, tapi di akhirat
Ijah : oh……begitu yah? Sejak kapan nenek pandai ceramah/ aku tidak butuh bualan
nenek, terserah, mau hidup hanya sementara, kekal atau apa, aku tak perduli, yang penting, hidup hanya untuk mencari kesenangan, keindahan
Nenek : setan apa yang merasuki otakmu, kamu sudah berani membentak nenek,
membantah nenek. Dasar anak durhaka, pelacur, wanita jalang
Ijah : iya, memang kenapa kalau Ijah durhaka, pelacur? Nenek justru dari melacur itu
aku bisa dapatkan semua, paling-paling nenek dulu juga melacur?
Nenek : oh…..jadi kamu dapatkan uang dari melacur? Kurang ajar sekali kamu jah…..
siapa yang mengajari kamu melacur? Nenek tidak pernah mengajari kamu seperti itu?
Ijah : iya….memang itu bukan saran nenek, tapi nenek memberi kebebasan Ijah
bermain dan cari pengalaman, dan sebagai pelacur adalah pengalaman yang sangat berharga. Bisa keluar masuk hotel, naik mobil-mobil mewah…
Nenek : Ijah, dasar anak kurang ajar! Terserah kamu sekarang jah, nenek sudah tidak
akan peduli kamu lagi, biar nenek hidup dengan kaleng ini, tapi nenek bahagia, bukan dari pelukan laki-laki hidung belang
Ijah : peduli apa nenek dengan Ijah? Percuma ngomong sama orang tua renta, bau
ngeyellan, ngabisin tenaga saja (pergi tanpa pamit)
Nenek : Ijah…ijah! Mau kemana kamu? Ijah…..nenek belum selesai bicara, Ijah….!
Ijah……ijah…kenapa kamu begini, apa salah nenek, nenek ingin lebih baik, bukan seperti ini. Ijah…..nenk tahu, nenek tidak bisa memberikan yang lebih baik, hanya sesuap nasi, hanya dari kaleng ini. Apa artinya uang yang haram, apa artinya kekayaan, kehormatan, kenikmatan, jika semua itu hanya sementara. Nenek tidak pernah mengajari kamu melacur, menjual kehormatan, menipu, mencuri. Tapi kenapa kamu kecewakan nenek Ijah…….! Kamu dapat makan hanya dari kaleng ini, kamu dapat hidup dari kaleng ini, kamu dapat bernafas hanya dari kaleng ini. Kenapa…..kenapa…….? (lampu perlahan mati)


Sekian



Teater Mbureng

0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More