Rabu, 27 Juli 2011

Merah

MERAH .

Babak I .

(Di panggung terlihat sebuah gubuk yang sedikit amburadul, dn disampingnya terdapat sebuah warung)

lampu : Netral "kalem"
musik : Kalem bernansa kejawaan
suasana : Sore

(Absute)
I : Hajar
II : Bunuh
III : Hancurkan "Jangan dikasih ampun"

Adegan I

(Tampak seorang tua "Sukiman" tengah berbaring di atas bale, muncul seorang wanita istri sukiman menghampirinya dengan sedikit menari dan menembangkan lagu jawa)

Sulasi :
Ealah pak….pak…., di suruh jaga warung k' malah asyik tuduran…. Ayo bangun bangun....(Sambil membangunkan sukiman) kapan dapat duitnya kalo begini terus…. (Sambil nerocos)

Sukiman :
Aduh …
Heh… Barusan bapak mimpi…

Sulasi :
Hah pasti mimpiin itu itu saja, tentang perjuangan, kemerdekaan, bosen pak kaya' ga' ada mimpi lain aja…(Sambil menghela nafas)


ADEGAN II

Lampu : Netral, Agak terang dari sebelumnya
Musik : biasa
Suasana : Sore

(Saat asyiknya sukiman bercengkrama dengan istrinya, tiba-tiba suami istri tersebut terhentikan poleh deheman seseorang,dan masuklah seseorang yang berwibawa datang untuk mencari kopi")

Soejatmiko :
Ehem…. Permisi, kopi satu bu? (Sambil duduk)

Sulasi :
iya pak,,, (Sambil membuatkan kopi)

(di tengah asyiknya soejatmiko meminum kopi, terdengar bincangan sukiman dan istrinya yang memperoalkan tentang mimpi sukiman)

Soejatmiko :

Dari tadi saya mendegar bapak dan ibu ini selalu bertengkar, bahkan setiap kali melewati rumah bapak saya sering mendengar kalimat-kalimat yang sama. Kata "Merdeka" kerap sekali terdengar di telinga saya, semua orang sudah tahu kalau bangsa kita ini sudah merdeka, bahkan Negara lain pun sudah tahu pak alau Negara ini sudah merdeka.

Sukiman :

Maaf, bapak ini siapa? Dating-datang kok berbicara tentang kami

Soejatmiko :

Saya adalah orang yang sering lewat sini, orang-orang sering memanggil saya bapak soejatmiko. Saya adalah seorang jenderal pada masa orde baru.

Soekiman :

Ooowww, bapak seorang jenderal… (dengan tatapan sinis)

Soejatmiko :

Ya begitulah, tapi saya sudah pension pak. Bapak sendiri?

Soekiman :

Aku sukiman, dan ini sulasi istriku satu-satunya (Sambil berjabat tangan)

Soejatmiko :

Oooww, bapk mantan pejuang ya !!!

Soekiman :

(sedikit terperanjat kaget) bapak tau dari mana kalo saya ini mantan pejuang.

Soejatmio :

(sedikit tertawa ) ha ha, pak pak…. Tadi kan saya sudah bilang bahwa saya sering mendengar pembicraan kalian. (sambil mengernyitkan dahi) itu juga tanpa ada unsure kesengajaan pak.

Soekiman :
Benar pak, saya mantan pejuang, tapi itu dulu

Soejatmiko :
Maaf pak..(sambil melihat jam tangan nya dan meminum secangkir kopi) saya harus cepat pergi karma saya ada janji dengan anak buah saya (membayar kopi dan mengajak berjabat tangan lalu pergi meninggalkan sukiman dan istrinya)

Sulasi :
Ya pak, terima kasih..

Sukiman :
(melihat langit) hari sudah petang bu, waktunya istirahat (sambil mengemasi barang dagangan. Lampu perlahan redup sampai mati)


Babak II

ADEGAN III

(Soekiman beroasi atau membaca puisi di tengah panggung)

Lampu : merah netral
Musik : kemerdekaan
Suasana :malam

Aku adalah pahlawan yang tak kenal menyerah demi Negara tercinta, akulah pemimpin pasukan yang tangguh, bamboo runcing adalah senjataku, ku rampas senjata dari musuhku, dengan teriakan "merdeka" semangat pasukan ku kobarkan, berlari dan bertempur di medan perang, meski nyawa seaktu-waktu akan hilang tapi tak menrutkan semangat juangku, hanya desingan peluru yang ku dengar, hanya mayat dan darah yang ku lihat, namun semangat kemerdekaan t'lah memutakan mataku, tampak musuh dihadapanku, senapan kuarahkan tepat dikepala musuhku, kutari pelatuk snapanku……dan dooorr………..ha…….ha…ha…, terkapar dia dijemput sang maut,…..rasa gembira dan ku teriakan merdeka.
Tapi…..kini semua itu sia-sia, Negara tak menganggapku ada, perjuanganku tak dianggap apa-apa, imbalan juga tak seberapa, sampai anaku lari meninggalku yang tak berdaya karma harta.
Kumenangis sendiri, ku berjalan sendiri bak burung yang takpunya sangkar dan Tujuan…..ha….ha…..ha…. ya sendiri, hanya sendiri…kuibaratkan orang yang tertipu oleh kemerdekaan, tertipu oleh perjuangan ……aan kuminta hakku kepada siapa, akan uadukan nasibku kemana…..hah….kata "MERDEKA" kini hanya membuatku lemah tak berdaya.

Babak III

Adgan IV

Lampu :netral terang
Musik :segar dan mengalun.
Suasana :pagi.

(keluar sukiman dari gubuknya, sekaligus mempersiapkan barang daganganya)

R.M.Bagus :
permisi,selamat pagi pak…kopi satu.!!

Sukiman :
Oiya sebentar….(sambil memanggil anaknya),surtiniii…tolong buatkan kopi untuk bapak ini??

Surtini :
iya pak ….(dengan mimic muka kentus)
(raden mas bagus mencuri-curi pandang, kepada surtini yang sedng membuatkan kopi)


R.M. Bagus :
Saya heran ditempat ini masih saja ada wanita cantik,(sambil mengusap dahi) neng mau tidak ikut abang??

Surtini :
kemana??....(penasaran dengan ajakan bagus)

R.M. Bagus :
Ayo neng ikut mas…(sambil memegang tangan surtini,mengajak pergi)
"tiba-tiba si sukiman keluar"

Sukiman :
lho..lho..mau kemana ndok??(menunjuk kearah surtini)
"raden bagus menengahi perbincangan si anak dan si bapak"

R.M.Bagus :
Ooo….ini anak bapak??!

Sukimn :
iya…..seenaknya saja kamu membawa kabur anakku,kau anggap dirimu itu siapa????

R.M.Bagus :
aku adalah Raden mas bagus,orang terkaya didesaku…..

Sukiman
:jadi mas ini keturunan darah biruu….(sambil menarik anaknya kedalam rumah)

Suertini :
asal baapak tau saja, aku hidup bersam bapak merasa kurang dan tidak bisa menikmati hidup enak!! (meronta dari genggaman sukiman)

R.M. Bagus :
biarkan anak bapk ikut saya, dia bisa hidup mewah,berkecukupan,dan tidk seperti kehidupan bapaknya..!!!(menghina)

Sukiman :
heeh….(lantang), tutup mulutmu anak muda,rupanya kamu belum tau dengan siapa kmu bicara…..????

R.M.Bagus :
lantas bapak ini siapa..? penemis, tukang Koran, tukang jualan kopi….!!(lagi-lagi menghina)

Sukiman :
dengar….aku ini mantan pejuang veteran jaman dulu….(murka,beringas)

R.M.bagus :itukan dulu.(enteng)

"ditengah perdebatan dua orang tersebut datanglah Sudjatiko"


Sudjatmiko :
kenapa terdengar keributkan…..apa yang kalian rebutkan?? ..dan siapa kamu…(menunjuk bagus)

R.M.Bagus :
saya Bagus……

Sukiman :
raden mas bagus tepatnya,seorang kontraktor yang datang tiba-tiba berkeinginan menghancurkan keluargaku…(mengadukan ke sudjatmiko…)

R.M.Bagus :
Hei pak tua..?

"sambil menunjuk kearah sukiman"

Sukiman :kenapa??apa kataku ada yang salah ??

R.M Bagus :
Itu karena….

Soekiman :
He! He! Tak usah kau jawab itu karena aku sudah tahu jawabannya

R.M Bagus :
Jawabannya Katamu…!

Soekiman :
Ya… tepat sekali bagus, aku sudah tahu alasannya kenapa kamu tidak membicarakan tentang dirimu sendiri..

Soejatmiko :
Hoooii…. Apa kalian berdua tidak menghormati kedatangan saya, saya datang kemari tidak ingin mendengar keributan kalian.

Sukiman :
Hah.. apa katamu jenderal, apa sya tak salah dengar, anda masih ingin di hormati? Padahal anda adalah seorang jendral yang terhormat dan sudah di hormati banyak orang, tapi sekarang ingin di hormati.

RM. Bagus :
Coba bapak liat sendiri orang tua ini, benar-benar orang tua yang keras kepala dan tak tahu sopan santun

Sukiman :
Keras kepala katamu…

RM.Bagus :
Ya, keras kepala

Sukiman :
(tertawa dan maju kedepan) hahahahaha….. aku sukiman di katakana keras kepala , ya… aku memang keras kepala, berkat kers kepalaku inilah aku bisa menumbangkan musuh-musuhku di medan perang , karena keras kepala inilah aku busa mengatur strategi perang, jadi karena keras kepala inilah aku bisa memerdekakan negeri ini. Lihatlah diri kalian berdua, Jendral dan Ningrat … Apa kalian pernah merasakan hal seperti itu, jantung berdetak kencang Karen sewaktu-waktu nyawa akan hilang, keringat bercucuran deras karena harus melawan peluru-peluru yang setiap saat dapat menembus dada …

0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More