Malin Kundang .
Di sebuah desa pesisir pantai pulau Sumatra tepatnya di Padang hiduplah keluarga miskin. Tapi kemiskinan itu tak membuat keluarga larut dalam kesedihan dan tangisan. Keluarga sederhana itu hanya berjumlah anak dan ibu, anak yatim itu bernama Malin Kundang, sudah sejak kecil Malin ditinggal wafat ayahandanya.
Di desa itu, rata-rata bermata pencaharian melaut atau melayan. Namun ada sebagian yang berdagang, bahkan barang-barang dagangan itu berasal dari negeri seberang. Dan biasanya ketika kapal-kapal pedagang berlabuh, banyak orang yang berburu menjadi kuli angkat atau mengangkat barang dagangan dari kapal ke dermaga. Ada sebagian penduduk yang ikut mencari nafkah dengan numpang kapal-kapal pedagang agar sampai pulau seberang.
Pada suatu hari, dipagi yang cerah, senyum mentari hangatkan alam. Bermain Malin di halaman rumahnya, sedang ibunya sedang asyik menjahit baju anak semata wayangnya yang sobek.
Ibunda : Malin……Malin! Maafkan ibu ya nak, ibu tidak bisa membelikan baju baru.
Kalau saja ayahmu masih hidup, pasti kamu dibelikan baju baru.
Malin : tidak apa-apa bu, Malin sudah bosan dengan baju baru. Enakan baju jahitan ibu.
Ibunda : kamu itu bisa saja. Sudah sekarang kamu main sana.
Malin : nanti saja bu, Malin masih mau belajar menjahit! Nanti kalau Malin bisa
menjahit, kan ibu tidak perlu susah-susah menjahitkan baju Malin yang sobek.
Ibunda : kapan-kapan saja, nanti ibu ajari menjahit. Sudah sekarang kamu main sana!
Malin : iya bu, kalau ibu maunya begitu. Tapi janji ya, kapan-kapan ibu ajari Malin
menjahit?
Ibunda : iya…..iya…..!
Malin : ya sudah, Malin main dulu ya bu. Assalamu’alaikum (mau keluar)
Ibunda : eh….eh…! cium tangan dulu!
Malin : oh iya….ya….! lupa.
Ibunda : hati-hati!
Malin : iya bu…….! (keluar)
Ibunda : sudah selesai…….!
Tiba-tiba datang Bibi bertamu kerumah Malin.
Bibi : Assalamu’alaikum……!
Ibunda : Wa’alaikum salam…….! Eh Bibi…! Silahkan……silahkan duduk!
Bibi : terima kasih bu.
Ibunda : sebentar ya……saya ambilkan minum dulu.
Bibi : tidak usah repot-repot bu.
Ibunda : ah tidak kok! Sebentar ya…..! (keluar)
Bibi : iya!
Sekiranya apa ibu setuju ya, kalau Malin kerja di rumah saya? Ah tak tunggu saja keputusannya tadi
Masuk lagu Ibunda.
Ibunda : maaf Bi hanya air putih.
Bibi : tidak apa-apa bu. Ini sudah cukup kok.
Ibunda : ngomong-ngomong ada perlu apa ya?
Bibi : begini bu, pembantu saya itu sudah tidak bekerja lagi. Katanya dia sudah tua,
sudah tidak mampulagi menyapu halaman.
Ibunda : terus?
Bibi : saya ingin Malin yang menggantikannya, apa ibu mengijinkan Malin bekerja di
rumah saya?
Ibunda : oh begitu….! Begini bi, Malin kan masih kecil, saya tidak tega melihat Malin
bekerja. Biar saya saja yang membantu Bibi. Bagaimana?
Bibi : tidak apa-apa. Kalau ibu mau begitu, saya berterima kasih sekali!
Ibunda : sama-sama. Oh iya silahkan diminum! Sampai lupa.
Bibi : iya! (minum air yang disuguhkan)
Kalau begitu saya permisi dulu ya bu, sudah siang. Kalau bisa, besok ibu sudah bisa bekerja.
Ibunda : iya bu. Terima kasih.
Bibi : Assalamu’alaikum
Ibunda : wa’alaikum salam.
Terima kasih tuhan, engkau memberikan rizqi pada keluargaku. (lalu keluar membawa gelas bekas minuman itu)
Beberapa tahun kemudian setelah Malin beranjak dewasa, dia ingin bekerja ke pulau sebrang bersama orang-orang yang berlayar menumpang kapal pedagang.
Malin : wah, aku kasihan melihat ibu bekerja banting tulang. Aku mulai sekarang harus
mencari pekerjaan. Tapi kemana ya? Ah aku tidak tahu harus kemana, apa berlayar saja? Tapi aku tak punya kapal.
Fajri : Malin…….Malin……!
Malin : ada apa Fajri?
Fajri : aku dengar kamu ingin bekerja?
Malin : iya, kamu mau mengajak aku bekerja?
Fajri : iya sih. Tapi apa kamu sanggup bekerja sama aku?
Malin : Fajri…..Fajri…..! kita kan sudah lama berteman. Masak kamu tidak percaya
aku. Memangnya pekerjaan apa?
Fajri : begini, besokkan awal bulan, biasanya kan kapal dari sebrang berlabuh di
dermaga, aku mau numpang untuk ke pulau sebrang.
Malin : terus.
Fajri : aku ditawari menjadi kuli saudagar di sana.
Malin : memangnya siapa yang menawari?
Fajri : pamanku kan sudah lama di sana, karena dia sudah tua, paman ingin aku
menggantikannya bekerja, tapi dia minta satu orang lagi. Besok dia datang, bagaimana?
Malin : aku mau. Iya aku mau. Tapi aku ijin dulu sama ibuku?
Fajri : baiklah, kalau begitu aku mohon pamit.
Malin : kok buru-buru?
Fajri : masih banyak kerjaan di rumah. Assalamu’alaikum!
Malin : wa’alaikum salam!
Wah, akhirnya aku bisa dapat kerja juga. Tapi apa ibu mengijinkan aku ya?
Tak lama berselang datanglah ibunda.



0 Coment:
Posting Komentar