Rabu, 27 Juli 2011

Laila lamun

LAILA LAMUN


Di pagi berembun tersapu senja, melangkahkan kaki seoreng gadis desa berbusana muslim, bersama tas biru kesayangan yang didalamnya berdesakan buku-buku kuliah dengan rapi. Laila panggilan akrabnya, mahasiswi semester enam jurusan Mu’amalah disebuah kampus keislaman di daerahnya.
Laila berhenti melangkahkan kaki, tepat dipinggir jalan raya dua meter darinya berdiri. Disamping kiri laila berdiri, mematung diam sebuah pos ronda yang hampir setiap pagi selalu setia menemaninya. Tak lama waktu melangkah, dilambaikannya tangan kanannya dan berhenti sebuah angkutan umum mini.

“Pasar pak!” kata yang terucap dari bibir tipis laila.
“Ya…..!” jawab sopir singkat dan ramah.
“Laila…..!” terdengar suara Novi dari belakang tempat duduknya.
“Novi…..!” balasnya dengan senyum manis laila.
“La…entar kelompok berapa yang presentasi?” tanya Novi lanjut.
“Mata kuliah apa…?” Laila balik tanya.
“Ekonomi syari’ah……!” jawab Novi.
“Oh! Ekonomi syari’ah…….! Kalau nggak salah kelompok tiga!” jawab Laila.
“Kelompok tiga…! Kamu kelompok berapa?” kembali Novi bertanya.
“Kelompok lima! Kan satu kelompok sama kamu!” jawab Laila jelas.
“Oh iya….ya…! lupa……!” ucap Novi bersama tawa kecil.
“Mang kamu udah punya bahan materinya?” tanya Laila.
“Belum……! Tentang apa sih…..?” Novi balik tanya.
“Novi…..Novi…! kamu ini gimana sih…! masak ama tugasnya sendiri nggak tahu…..!” canda Laila.
“Ya maaf………..!aku kan pas waktu pembagian kelompok nggak masuk ” jawab Novi cengar-cengir.
“Asuransi atau Takaful Syari’ah“ jawab Laila jelas dan singkat.
“Oh………!” timbul Novi menanggapi.
“Mang kamu paham nggak tentang pembahasan materinya?” tanya Laila.
“Enggak! Hehehe…..!” jawab Novi cengar-cengir.

Tiba-tiba angkutan mini yang dinaiki mereka berdua berhenti dipinggir jalan dekat pasar. Tak jauh menyeberang jalan jarak seratus meteran kedalam dari jalan berdiri tegak sebuah gedung berlantai tiga. Gedung itulah tempat mereka kuliah.

“Eh……..udah nyampek la, ayo turun” ajak Novi
“Iya….ayo…..!” Laila

Mereka berdua melangkahkan kaki menyeberang jalan raya. Tampak ramai pejalan kaki dan kendaraan melewati depan mereka berdua. Terlihat agak luang untuk melangkahkan kaki melewati jalan raya yang membentang panjang kekiri dan kekanan. Lambat merayap langkah demi langkah berhitung mengurangi jarak mereka berdua dengan kampus

“La, entar habis mata kulaih pertama ke perpus yuk……….!” ajak Novi
“Ngapain…..?“ tanya Lalia
“Ya ngerjain tugas lah…..! mang mau ngapain lagi? Cari makan…..!” ejek Novi bercada.
“Ya elah………..! tumben semangat, habis makan apa….?” ledek Laila bercanda
“Makan daging monyet! Kamu nggak seneng ya lihat temen semangat?” timpuh Novi.
“Ya enggak……..sih……….! tapi tumben aja kamu semangat ngerjain tugas, biasanya kamu malas-malasan kalo diajak keperpus!” ledek Laila lanjut
“Lain dulu lain sekarang……! Masak dari semester awal sampek semester enam tetep nggak ada perubahan……….!” Novi mempertahankan kata-katanya
“Ya udah, nanti tak temenin!” Laila menanggapinya.
“Nah….gitu….donk…!” Novi bercanda dan melontarkan senyum kecil manis.

Dipagi yang udah bertabur sinar mentari, kampus sudah ramai para mahsiswa dan mahasiswi pencari ilmu. Ramai lalu-lalang kendaraan bermotor mahasiswa dan dosen bergantian memasuki gerbang kampus tanpa pintu. Lalu-lalang mahasisiwa dan mahasisiwi berjalan menuju kelas yang sudah ada dosennya disebagian ruangan kelas.
Melihat kelas atau ruangan D.13 sudah ada dosen dan sebagian mahasiswa yang hanya sepertiga kelas, Laila dan Novi mempercepat langkah kakinya menuju ruang kelas itu.

“Vi, udah masuk tu….! Ayo cepet” mengajak Novi mempercepat langkahnya.
“Nyantai La…! Dosennya nggak galak kok!” berusaha mengajak santai Laila
“Bukan masalah galak nggaknya, tapi ilmunya…..!” tangkas Laila menyemangati
“Ce…..ile…….! ini baru mahasiswi teladan…..! hehehe…..” ledek Novi.

Selang beberapa mereka melangkah, telah mendekati pintu kelas, dan sedikit merunduk mereka berdua memasuki ruang itu. Dihampirinya bangku barisan kedua dari depan sebelah kanan. Dan tampak semua yang ada didalamnya memperhatikan dan menyimak materi mata kuliah yang disampaikan Pak Dimyati Nugroho. Laila mulai memperhatikan serius materi yang disampaikan pak dosen. Sedangkan Novi tak terlalu menanggapinya.
Disamping kiri Novi duduk, terlihat seorang mahasiswi yang juga terlihat malas mengikuti materi. Selang beberapa menit Novi duduk, dilontarkannya sebuah kata tanya pada anak yang di sebelah kirinya.

“Nun, dah lama belum masuknya?” tanya Novi pelan pada Ainun.
“Udah sekitar dua puluh menitan.” jawab Ainun singkat.
“Udah ada yang presentasi?” tanynya menambahi.
“Belum. Paling sebentar lagi!” jawab Ainun agak malas.

Terdian kembali dan mulai serius mendengarkan penjelasan dosen, walau agak malas dan membosankan. Waktu lambat merayu sepuluh menit kemudian Pak Nogroho mempersilahkan kelompok yang mendapatkan giliran presentasi.

“Yah…, selanjutkanya saya persilahkan kelompok yang mendapat giliran. Sekarang giliran kelompok berapa?” Pak dosen mempersilahkan dan bertanya ramah.
“Kelompok tiga pak……!” jawab sebagian Mahasiswa di dalam kelas.
“Kelompok tiga….! Oh ya…! Syamsudin Ahmad, Latif Mulyono dan Agus Andrian. Sialhkan maju kedepan, bagikan makalah yang dipotho copy!” memperjalaskan nama kelompok.
“Iya pak!” jawab Agus sembari memberikan potho copy malakah kelompoknya.

Waktu terus melaju tak terasa sudah satu jam mahasiswa dan mahasiswi kelas Mu’amalah berdiskusi. Dan akhirnya beraakhirlah jam pertama mata kuliah Ekonomi Syari’ah pada hari itu.
Lama kantin menunggu pembeli yang mulai meresa lapar atau haus.begitu juga perpus yang dari jam delapan buka, hanya seperlila ruang yang terisi pembaca.
Sedangkan kelas mulai sepi, kebanyakan mahasiswa keluar ruangan dengan membawa tas dan bukunya. Tampak Laila dan Novi mengakhir duduknya dan mendekat pada Agus.

Vi…! Ayo keperpus!” ajak Laila
“Bentar dulu, kita nafas dulu, masih panas nih bokongku!” tolak Novi bercanda.
“Ya udah aku tak duluan!” cueknya bercanda.
“Eh…eh….tunggu La……! Bareng, kamu tega banget sih ninggalin aku sendirian!” rengek Novi.
“Kamu sih….tadi ngajak keperpus, sekarang malah nggak mau….!” tangkis Laila.
“Iya…..iya….! apa nggak kekantin dulu…..? tak traktir deh…….!” rayu Novi.
“Nggak! Aku masih kenyang…!” tolak Laila.
“Minum doang kek…….! Ayolah……,temenin aku……!” rengek Novi merayu lagi.
“Ya udah…..tak temenin sebentar aja……!” balasnya menyetujui.
“Nah…..gitu….donk….!” Novi agak senang sambil senyam-senyum.

Langkah demi langkah mereka jalani, setapak demi setapak mereka lalui. Dan tepat dibelakang perpustakaan terlihat agak ramai mahasiswa menikmati nasi pecel, rokok, kopi dan minuman-minuman ringan yang lainnya. Novi dan Laila memasuki pintu kantin yang tak terlalu sempit dan tak terlalu lebar.
Terlihat di pojok kiri terlihat Syamsudin dan Latif bercanda sambil menikmati segelas kopi yang di joinnya. Juga sebatang rokokyang terselip dijarinya. Mereka terlalu asyik menikmatinya dan tak perdulikan orang-orang yang melihatnya. Sambil sesekali melihat pintu kantin yang terbuka lebar berlayar tembus pandang pada sebuah mushola khusus wanita.

“Es jeruk bu….!” Novi memesan minuman pada pelayan sekaligus penjual kantin.
“Berapa…?“ Tanya bu kantin ramah.
“Eh La kamu mau minum apa?“ Novi melantunkan kata tanya pada Laila.
“Sama dengan mu aja!“ jawabnya ngikut.
“La!” terucap dua huruf yang dilantunkan Latif memanggil Laila.
“Latif…..ada apa…?” balasnya menjawab.
“Nggak iseng aja manggil!” jawabnya iseng sambil menghisp rokoknya.
“Oh….! Eh kamu kemarin dapat sumber materi dari mana?” tanya Laila.
“Wah aku nggak tahu, yang nyari bahan Agus….!” jawabnya.
“Dasar anak nggak tahu diri……!“ celoteh canda Novi memotong obrolan Latif dan Laila.
“Biasa……akukan bosnya…..Aguskan pembantunya….! Jadi yang kerja tu Agus…….! Ni juga Syamsudin asistenku, tak kasih tugas ngetik….!” canda Latif sok jada bos.
“Semprul lho…..! enak banget lho ngomong…..! belum pernah makan batu ya….!” balas Syamsudin bercanda dan nggak terima.
“Udah……….! Agusnya kemana?“ Laila
“Kayaknya keperpus, kamu cari aja diperpus!” Latif
“Ayo La kemushola dulu…….!” ajak Novi sambil membawa dua bungkus es jeruk.
“Aku duluan ya….!” pamit Laila.
“Ok…….!” jawab Latif.

Mereka berdua melangkah kembali menuju sebuah mushola yang didalamnya sepi tak ada siapa-siapa. Hanya mereka berdua yang menikmati angin sawah yang sejuk membelai mereka, sambil meminum es jeruk yang dibawanya dari kantin.
Detik mulai berlari, menit datang menjemput, tak terasa mereka sudah hampir setengah jam didalam mushola wanita. Dan Laila mengajk Novi melanjutkan tujuan pertamanya keperpus.
Kembali melangkah, mereka memasuki ruang perpustakaan yang sudah mulai ramai. Tampak seorang mahasiswa sedang asyik menikmati bacaan-bacaan yang tertulis rapi pada sebuah buku tentang tafsir hadits yang dipegangnya. Dialah agus yang tadi dikelas memimpin presentasi kelompoknya yang mendapat giliran.
Perlahan Laila mengajak Novi mendekati Agus.

“Vi, itu Agus….!” tunjuk Laila.
“Mang kenapa….?” Novi pura-pura bloon.
“Kita tanya aja dia dapat bahan materi dari mana!” jelas Laila.
“Iya…ya….! Aku nggak kepikiran. Ayo kesana aja…!” Novi nyengiyakan Laila.
“Agus!” panggil Novi.
“Ya…! Ada apa Vi?” jawab Agus terkejut
“Maaf ngganggu, aku mau tanya, kamu dapat bahan materi dari mana?” Novi bertanya.
“Oh materi tadi?” Agus.
“Iya….!” Novi.
“Di perpus pondok!” Agus
“Di sini ada nggak?” Novi tak puasnya bertanya.
“Kayaknya nggak ada. Selama ini aku belum pernah nemuin buku………disini. Kalo yang lainnya ada disini” jawab Agus.
“Dimana tempatnya, disebelah mana?” tambahnya bertanya.
“Di lemari paling kanan, kumpulan buku-buku ekonomi islam.kamu cari aja disana!” Agus menjawab dengan sabar.
“Oh ya….makasih…..!” mengakhiri tanyanya dengan sedikit senyum.

Mereka berdua beranjak dari tempat Agus duduk membaca, dan mulai mendekati lemari yang di tunjuk Agus dengan penuh semangat. Hanya selang beberapa langkah mereka telah sampai pada lemari yang dimaksud, dan mulai menyisir satu persatu buku yang tertata sudah tidak terlalu rapi lagi, karena ulah tangan pencari buku yang semaunya sendiri.

“La…1 Agus ngganteng juga ya…?” celoteh Novi.
“Hus! Kamu ini….!” balas Laila agak risi.
“Halah……kamu suka ama dia ……ya……..?” candanya mulai iseng.
“Udah jangan banyak omong, kamu cari bukunya diatas aku dibawah!” Laila serius.
“Iya…..iya…..!” jawab Novi sedikit cemberut.

Ramai ringan penghuni perpustakaan, memberikat tanda betapa serusnya mahasiswa mwmbac buku dan sebagian membaca koran atau majalah. Tak sedikit yang menggoreskan tinta kelembaran-lembaran putih kertas HVS atau buku. Tuk mencari materi tugas kelompok dan mencaritahu ilmu yang menurutnya penting.
Waktu terus mengguling, siang datang mendenging, jam kedua yang ditunggu anak semester enam jurusan Mu’amalah tak kunjung terisi dosen. Kosong, itu yang sering dirasakan sebagian mahasiswa yang mendapati mata kuliah dosen yang selalu sibuk diluar kampus. Disisi lain mereka berdua hanya mendapatkan referensi dua buku saja, dan harus mencari tiga buku lagi untuk memenuhi syarat makalah dapat dipresentasikan.

“Vi…! Aku pulang dulu ya…! Udah siang nih….!”Laila berpamitan pada Novi.
“Aku sekalian pulang aja deh! Entar sore udah nggak ada jam kan?” Novi juga mau pulang.
“Nggak! Kosong! Kalau besok sore ada dua mata kuliah!” jawab Laila.
“Ya udah ayo pulang!” ajak Novi menyetujui Laila.
“Besok pagi kamu datang jam delapa bisa nggak?” Laila bertanya.
“Jam delapan…!” Novi.
“Iya…….!” imbuhnya.
“Insya Allah bisa. Emang ada apa? Mau ketemuan ama Agus….!” janji dan canda Novi.
“Ih…….ngaco aja sih kamu! Enggak….besok kita kepondok, nyari tambahan referensi!” Laila menjelaskan.
“Oh…….kirain mau ketemuan ama Agus! Tapi dilihat-lihat, Agus cakep juga ya….? Seandainya kamu ditembak Agus mau nggak…?” ejek Novi.
“Ih……tambah ngaco nih…..! tak sumpal mulutmu bau tahu rasa lo….!” tangkis Laila menghindar.
“Iya….iya…..aku nggak akan mbahas Agus lagi……..!” jawab Novi nyerah.
…………..

Tak terasa langkah mereka berdua semakin mendekati jalan raya. Dan terus semakin dekat dan dekat. Setelah mata mereka berdua menelanjangi jalan kana dan kiri, sedikit cepat langkah kakinya menyeberang jalan raya.
Disana telah menunggu sebuah angkutan mini yang sudah agak penuh. Dengan angin panas yang menyelimutinya dn sedikit ramia penumpang angkutan itu, menambah lelah dan capek tubuh Laila dan Novi yang hampir sama tingginya. Dan tak lama kemudian pak sopir melajukan kendaraannya yang sudah setengah jam menunggu penumpang, tapi hanya setengah angkutan yang ter isi..

“Vi, kam mau mampir kerumahku nggak?” kata yang terucap dari bibir Laila mengusir rasa lelah.
“Nggak ah….! Nanti sore aja kalo ada waktu!” tolaknya halus.
“Jam berapa kamu mau kerumahku?” tambahnya.
“Ya….sekitar jam empatan lah. Kalo aku nggak ada acara….!“ jawabnya.

Kembali terdiam dan mereka hanya memandangi sawah-sawah yang dilelati angkutan yang dinaiki mereka. Hijau tanaman padi berjajar rapi menambah indah barisan-barisannya dan emmbuat orang kagum, betapa indahnya warna zmrut yang terlukis di daun-daun tanaman padi.
Barisan padi seakan pergi tanpa pamit dengan berjalan ringan, disambut rumah-rumah kampung yang berstruktur karya bangunan orang-orang jawa. Selalu begitu, layar cendela angkutan yang menayangkan keindahan alam persawahan dan pedesaab. Tak berselang waktu lama, tampak Laila bersiap untuk mengucapakn sepatah kata.

“Stop pak…!” Laila menghentikan laju sopir dengan ramah.
“Mana mbak?” tanya sopir dengan ramah pula.
“Pertigaan pos ronda!” jawab Laila.
“Vi, aku turun dulu ya…! Nggak mampir?” pamit Laila pada Novi.
“Nggak, nanti sore aja….!” jawab Novi lelah.

Angkutan kembali melaju, Novi terbawa untuk melanjutkan misi sopir mencari nafkah. Sedang Laila kembali menempuh perjalanan kaki untuk sampai pada rumah yang menjadi tempat tinggalnya dan orang tuanya.
Panas itu pasti, lelah tak mau pergi, haus datang menghampiri, lapar bernyanyi menembus ruang perut Laila. Lahgkahnya semakin dekat mendekati ruamh sederhana tinggalan kakeknya, bentumbuhan rumput liar pada halaman depan rumah, tertata bunga-bunga murah yang tumbuh dengan liar. Di satukan tepat didepan serambi yang berlantan keramik tua.
Dimasukinya rumah tua itu, dengan nada lemas tak lupa ia ucapkan salam pada penghuninya. Dan tampak seorang ibu yang tak muda lagi tapi juga tak terlalu tua. Dialah orang tua Laila yang dengan sabar mengurusi pekerjaan rumah tanggasendirian, kadang kali dibantu anak semata wayangnya, Laila.

“Assalamu’alaikum……………!” salam Laila.
“Wa’alaikum salam……………!” jawab ibunda.
“Sudah pulang La….!” tanya ibu.
“Sudah bu….!” jawab Laila singkat sembari mencium tangan ibundanya.

Setelah tangan ibunda ia cium, Laila menuju kamar pribadinya di ruang tengah tampak buku berjajar rapi di rak buku seakan menyambut kedatangan sang penggemarnya. Diletakkannya tas yang setia menemanikemana ia pergi, terutama di kampus. Dibaringkannya tubuh lemas berkawan lapar dan haus. Sesekali ia menatap foto masa sekolahnya yang masih lugu dan nakal teringat masa lalu yang suram dan tak pernah ia memakai busana sesopan dan sesantun sekarang.
Selang beberapa menit, ia kembali bangkit dari ranjang yang beralas kasur dan berdamping sebuah bantal dan guling. Ia membuka tutup kepala yang seakan membakar kepaladan lehernya.

“Laila…….! Makan dulu….. sudah ibu siapkan makan siangmu!” terdengar lembut suara ibunda mengajak nya makan.
“Iya….bu…..!” jawabnya

Beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki menuju ruang kamar mandi yang sudah dari tadi menunggu sang tuan putri memasukinya. Diambilnya air yang terasa sejuk dan dingin. Perlahan membasahi sekujur tubuhnya.
Tak lama ia di kamarmandi, langkah kakinya kembali mengayun menuju kamarnya tadi. Disela rasa laparnya, ia memilih mengerjakan sholat duhur. Dan selang beberapa menit, ia kembali berjalan menuju ruang makan yang dari tadi menunggunya. Nasi, tempe goreng, sayur asem dan kerupuk seakan menghipnotisnya untu memekannya.
Setelah selesai makan, ia kembali kekamarnya dan membarigkan tubuhnya ketempat tidurnya. Sambil melamun, dan tatap matanya tajam menembus atap kamar berwarna puti yang tak terlalu putih. Sambil mengingat masa lalunya..dan terpejamlah matanya tanpa terasa.
…….

“La….La….! bangun, udah jam empat nih…..!” rtiba-tiba Novi berada disampingnya.
“Hmmmmm…..kapan dateng?” tanyanya sedikit sadar
“Ayo cepet angun, sholat dulu, dah sore nih…….!” bangunin Laila.
“Iya…….hoah……..!” nguapnya sedikit ngantuk.
“Tunggu disini ya………..!” Laila.
“Iya……...iya………..! cepetan sholat sana……!” Novi.

Novi sambil membuka buku harian Laila yang terletak diatas rak buku dan membaca isi dan sedikit senyam-senyum. Merasa teman sekelasnya itu taubat dari masa mudanya. Dilihatnya foto seorang cowok tampan yang melekat pada halaman pertama buku itu.
“Siapa ya…..! cakep banget……! Masak cowoknya!” kata-kata dalam hatinya. Lembar demi lembar dia buka, selang beberapa lembar ia membuka file itu, terdengaar suara sedal yang mendekati kamar itu.
“La……siapa nih……cakep benget, kamu nggak ngomong kalo udah punya cowok!” tanya Novi heran.
“Oh.! Itu Andra, mantan cowokku dulu waktu di SMA” jawabnya.
“Cakep banget ya…….! Hebat kamu bisa dapet cowok seganteng Andra! Sekarang anaknya kuliah dimana…?” Novi
“Yah……udah mulai sholat….!” Novi.

Melihat Laila sholat, ia melanjutkan membaca buku harianya Laila. Dengan asyik membaca puisi yang dikarang Laila sewaktu masih duduk di bangku SMA.
Setelah selesai sholat, baru menjawab pertanyaan Novi yang dilontarkanya tadi. Dengan sedikit agak keberatan< Laila menjawab.

“Nggak tahu, aku udah lama nggak ketem ama dia, tapi denger-denger dia ke surabaya, kerja ama pamannya.” jawab Laila.
“Kerja apa…?” tanyanya kembali.
“Di pabrik roti…..!” Laila.
“Tapi dia sering pulang kerumah apa nggak?” tambahnya.
“Nggak tahu, nggak pernah denger kabarnya. Udah nggak usah dibahas. Kamu mau minum apa?” Laila.
“Jus jeruk ditambah gula jawa, dicampur susu murni sedikit dan cream!” canda Novi.
“Nggak ada, Cuma ada air sumur aja…!” balas canda Novi.
“Iya…iya……..! terserah kamu deh………….!” Novi nyerah.
“Nih arinya….!” Laila menyerahka segelas jus jeruk pada Novi.
“Makasih……………!” Novi senyum.
“Eh….! La, aku mau tanya tentang agus……!” Novi mulai serius.
“Mangnya ada apa dengan Agus…..?” Laila heran.
“Tadi sampai rumah aku teringat dia….terus, kayaknya aku mulai menyukai dia….!” Curhatnya.
“Maksud kamu, jatuh cinta….gitu…..!” Laila pura-pura paham.
“Ya……….kayaknya gitu deh……….!” Novi.
“Kok kayaknya…….! Berarti kamu nggak yakin dengan perasaanmu sendiri.” Laila meyakinkan Novi.
“Bukannya gitu…….., tapi dianya mau nggak menerima aku sebagai ceweknya…..!” tambah curhatnya.
“Ya….apa salahnya kamu coba mendekati dia…..!” pendapatnya menanggapi.
“Tapi aku kan malu…..!” Novi kurang yakin.
“Ya udah…….kasihkan ke aku aja…..!” ejeknya.
“Ih…….dimintai pendapat malah ngejek…….!” Novi.
“Hehehe……..!” Laila tertawa kecil.
“La….gimana caranya ngedeketin Agus……..!” lanjut tanyanya.
“Kamu pura-pura minjem buku, ato pinjem catatannya, ato apa kek……yang penting kamu bisa ngobrol ama dia berdua.” pendapat laila.
“Iya…..tapi…….! kamu bisa bantu aku nggak?” Novi minta bantuan Laila.
“Insya Allah bisa, bantu kamu ngedeketin Agus……!” Laila.
“Iya……bener, deketin Agus. Bener ya….kamu bantu aku…..!” Novi meminta pertanggung jawaban Laila atas ucapannya tadi.
“Insya Allah…….!” Laila memperjelas ucapannya.
“Kok insya Allah sih……..! berarti kamu nggak serius bantu aku……!“ Novi.
“Aku akan bantu kamu semampuku……kalo nggak mampu ya nggak tak bantu………! Hehehe…….!” Laila bercanda.
“Iya……..iya………terserah kamu deh………!” Novi nyerah.

Waktu terus melaju, tak terasa menit silih berganti, detik telah jauh berlari, jam mulai mendekati satu putaran. Perlahan matahari kembali tidur di ufuk barat.
Sedang mereka berdua baru merasa malam akan tiba.

“E.La udah mau mahgrib nih………….aku tak pulang dulu……entar ibuku khawatir lagi………!” mengakhiri kata-katanya dalam kamar Laila..
“Ya…….hati-hati dijalan……!” pesannya pada Novi.
“Iya……! Bu saya mau pamit pulang dulu, sudah sore……..!” pamit pada ibu Laila.
“Assalamu’alaikum………….!” salam Novi mengakhiri kakinya menginjak serambi rumah Laila.
“Wa’alaikum salam……………!” Laila menjawab salam Novi.

Lambat demi lambat jam merambat, laju melaju menit melaju, deti pun berlari mengitai angka-angka jam. Malam semakin larutdan semakin gelap. Laila tak bisa tidur matanya terbuka lebar, menatap langit indah bertabur bintang, indah cahaya rembulan menambah keindahan langit pada malam itu.
Termenung Laila meratapi nasibnya, menyesali begitu salahnya tingkah lakunya pada Andra mantan cowoknya. Semua yang dikatakannya pada Novi hanyalah pemanis bibir dusta tanpa fakta.
………………

Andra adalah seoran anak yang baik ramah dan patuh kepada orang tuanya, tapi setelah mengenal Laila, dia menjadi sering membohongi orang tuanya. Betapa malangnya nasibnya, dia meninggal karena kecelakaan sewaktu pulang dari mengantar Laila pulang.

“ Dra, nanti kamu beliin novel CINTA SEGI TIGA ya…..! ” pinta Laila.
“ Gampang nanti tak beliin. Mang kamu punya cinta segi tiga….?” tanyaAndra bercanda.
“ ih…………..ngaco..enggak lah…..! cintaku buat Andra seorang….! Hehehe…. ” Laila bervanda dusta.
“ masak sih cintamu hanya untukku…….!” Andra mengejek.
“ ih………kamu kok nggak percaya sih ama aku………! Udah ah………anterin aku pulang, entar sore tak tunggu novelnya……..! “ pinta Laila manja.
“ iya..iya……..! kamu tunggu disini dulu ya…….aku ambil motornya! ” Andra.
“ ya…..cepetan…..jangan lama-lama! ” Laila.
Laila melamunkan pertemuannya dengan Andra terakhir kalinya sebelum meninggalkan keluarga, Laila dan dunia. Tapi apa gunanya sesal, semua sudah terjadi, tak guna nasib disesali. Semuanya hanya luka perih yang membekas dalam hati.
Tak terasa mata Laila mulai sepet, mengantuk dan mulai mengantup. Ditutupnya cendela berlayar keindahan langit malam, dan perlahan mulai membaringkan pada ranjang berkasur dan berguliang. Mata tertutup angan tertutup dunia pun tertidur.
………………

Sedangkan dimalam itu pula, Novi mulai kepikiran Agus, anak di kelasnya yang rajin masuk kuliah, rajin ke perpus, sopan, santun, ramah dan santri di pondok sekitar kampus, sekitar dua ratus meter ke utara dari kampus tempatnya kuliah.
Merasa ia tak bisa tidur, ia coba membuka jendela kamarnya yang tertutup rapat. Dan dibukanya setengah pintu jendela iyu. Ia pandang langit yang indah penuh bintang bertaburan, rembulan sebagai peerang malam dan pemancar keindahan langit. Novi perlahan menyuguhkan senyum pada malam dan langit, ia melamunkan dan membayangkan andai saja ib bersama pria idamannya, begitu lengkap malam itu dan begitu romantisnya suasanu hatinya.

“Agus, seandainya kamu adalah panheranku, dan aku adalah permai surimu, betapa indah hari-hariku, betapa sempurnanya cinta dan sayangku. Malam yang begitu indah ini, dengan bertabur bintang dan sinar rembulan yang indah pula ini menjadi saksi betapa sayangnya aku dan betapa cintanya aku padamu.Kesopananmu, keramahanmu, rajinmu adalah pancaran kesempurnaanmu yang menarik hati dan jiwaku” Lamunnya.

Selang beberapa menit ia merenung, Novi mulai mendekati rak buku, dan diambilnya sebuah buku harian yang selalu menjadi tempatnya curhat dan menjadikan saksi atas perasaannya yang terlukis dihari-hari yang lalu. Dia ambil bulpoin warna merah, dan ia mulai menarikannYa diatas buku itu.

CINTA

Dalam lamunan malam ku kabarkan
Dalam keindahan rembulan ku sampaikan
Dalam kesendirian ku ukirkan

Cinta
Perasaan naluri manusia
Tercipta dalam hati dan jiwa
Mengalir lewat mata dan hati

Cinta
Aku ingin mengalirrkanmu
Pada rembulan malam yang bersinar terang
Pada bintang yang berhamburan
Pada pangeran yang jauh disana

Lembut dan sejuk angin malam
Sesejuk santu dan ramah pangeran pujaan
Indah sinar bulan dan bintang
Seindah senyum keiklasan yang bersinar
dari bibir kesantunan pangeran

Pangeran
Dalam puja ku memujimu
Dalam cinta ku mengharapkanmu
Dalam sayang ku yakin
Engkaulah pangeranku

Selasa malam rabu
Pukul 23:45 Wib
………….
Begitu indah curahan hati Novi yang terlukis dalam bait-bait puisinya, terukir dalam buku hariannya malam itu. Dengan sedikit mata mulai berat tuk berkedip. Ia tutup buku itu dan tertutuplah matanya secara perlahan.
……………….

Di subuh yang dingin dan sejuk, di kamar Laila masih tertutup matanya dan tubuhny terbungkus selimut tebal.

“La…..bangun nak……sudah jam lima, ayo bangun………..sholat subuh!” ibu Laila berusaha membangunkannya
“Iya…….bu…..!” jawab Laila pelan.
“Cepetan, keburu siang…..!” akhir kata ibi membangunkan Laila

Sambil menahan kantuk dan mata sedikit terbuka, Laila berusaha mengangkat tubuhnya yang masih terasa agak kaku. Perlahan ia melangkah menuju sebuah pintu kamar yang terbuka setengah. Dan perlahan pelan terus melangkah menuju kamar mandi. Sedikit hawa dingin membelai kulit yang masih terbungkus kain yang setia menemaninya tidur.
Mandi dan wudlu melanjutkan aktivitas ibadah sholat subuh, dan tak lupa sedikit ia membaca ayat-ayat suci yang terkumpul dalam satu kitab suci Al-Qur’an. Suara indah menyanyikan lagu ayat-ayat suci itu. Hanya sedikit tapi pasti dan istiqomah setiap habis sholat subuh membacanya.
Waktu terus merangkak menjemput pagi dan mentari. Berlarian hawa dingin bersama angin pagi yang sejuk, selalu ditemui Laila diawal nafas dan matanya melihat dunia. Bunga-bunga seakan dengan manja meminta sang tuan putri memandikannya dengan air sumur yang masih segar pula.

“Bu……saya nanti jam delapanan mau ke kampus!” Laila.
“Ya…..tapi tumben hari rabu kok kekampus? Biasanya nggak ke kampus.” Ibu.
“Mau ngerjain tugas!” jelas Laila.
“Ya sudah………! Sekarang kamu siramin bunga didepan!” ibu.
“Iya bu…………!” mengiyakan perintah ibu.

Dengan tanpa rasa kesal atau malas, Laila menjalanka perintah ibu. Dan seperti biasanya mulai setelah beribadah subuh, Laila kadang membantu ibu memasak, nyiramin kembang ayau menyapu lantai rumah dan halaman.
………….

Sedang disatu sisi, Novi teman akrab Laila adalah anak yang selalu hidup penuh kecukupan, dan dimanja orang tuanya. Tapi itu membuatnya risih, Novi tak pernah ingin dijadikan anak kesayangan, dimanja atau diistimewakan. Ia lebih senang hidup menjai manusia yang wajar dan biasa.
Sedangkan aktivitas Novi hampir setiap pagi dihabiskan dengan menyirami bunga-bunga yang berbaris indah didepan rumagnya. Walau hanya terbatas dalam pot-pot, yapi terawat oleh tangan Novi. Kadang kali ia menghabiskan waktu pagi dengan mendengar radio dan membaca buku-buku keagamaan.
Berbeda dengan hari biasanya, Novi pagi itu hanya didapur dan membantu ibunya masak.

“Bu……nanti motornya dipakek bapak keluar apa nggak….?“ tanya Novi memulai.
“Kayaknya bapak nanti nggak pakaek motor! Memang ada apa?” ibu.
“Nggak bu…..aku mau kekampus, ngerjain tugas kuliah!” jawabnya.
“Oh……..! kirain mau ngapain.” Ibu mengira.
“Bu….! Aku boleh tanya sama ibu nggak……?” katanya agak ragu-ragu.
“Tanya apa……?” ibu mambalas.
“Tapi ibu jangan marah ya……..?” Novi.
“Ngapain ibu marah sama kamu.” Jawab ibu meyakinkan Novi.
“Aku kan punya temen sekelas, anaknya baik dan pintar, juga sopan. Kalo aku menembak dia gimana bu……..?” tanyanya.
“Kamu kok kayak gitu sih Vi……..!” ibu heran.
“Kayak gitu gimana…….?” Heran Novi.
“Dimana-mana yang biasa nembak itu anak laki-laki, bukan perempuan yang nembak laki-laki! Jangan, ibu nggak setuju!” larang ibu.
“Yah….! Ibu ini gimana sih, nggak seneng ya lihat anaknya seneng!” Novi cemberut.
“Kalo kamu yang nembak temenmu, ibu nggak setuju. Tapi kalau menurutmu anak iyu baik buat kamu, ya coba kamu deketin perlahan dan kasih perhatian dia.” Jelas ibu.
“Oh……! Gitu ya……! Kenapa aku nggak kepikiran ya…….! Iya deh tak cobanya.” Novi terima pendapat ibu dengan senang.
“Nanti kalau dia merasa ada perhatiah dari kamu…..! masak iya dia nggak merasa adap perasaan seneng!” tambah ibu.
“Iya deh bu, aku tak mandi dulu……..!” akhir kata-katanya.

Selang beberapa menit bapaknya Novi medekati ibunya, dengan sikapnya yang ramah, bertanya kepada istrinya tercinta.

“Bu……! Sudah siap sarapannya?” tanya bapak dengan ramah.
“Sudah pak……! Bapak tunggu saja di ruang makan, sebentar lagi ibu anterin.” Jawab ibu dengan ramah pula.
“Ya…..! cepetan ya bu, bapak sudah mau berangkat ke toko!” bapak
“Iya……iya…….!” Ibu meyakinkan.

Sementara Novi mulai bendandan sesederhana mungkin seperti biasanya setelah mandi pagi, langsung menuju ruang makan dan duduk.

“Pak, nanti motornya dipakek nggak?” mengawali tanya pada bapak.
“Nggak, bapak nanti berangkat sama Pak Darmo. Memangnya kenapa, mau kamu pakek kemana?” balas bapak.
“Mau tak pakek ke kampus.” Jawabnya.
“Biasanya hari rabu kamu dirumah, hayo…..mau ngapain…..?” bapak bercanda.
“Ih…….! Bapak aneh-aneh aja sih nanyanya! Mau ngerjain tugas kuliah.” Jawab Novi manja.
“Oh………! Kirain mau ngapain…….! Ya udah kamu pakek aja, tapi hati-hati.” Pesan bapak.
“Iya…iya…….! Novi akan hati-hati.” Janjinya.
“Makan dulu…….! entar dilanjutin lagi ngomongnya!” potong ibu.
“Iya…..bu………….!” Novi

Waktu kembali melaju dan tak terasa jam menunjukkan tepat pukul delapan kurang seper empat. Novi pun bersiap untuk pergi menghampiri Laila ke rumahnya untuk ngerjan tugas di perpus pondok sekitar dua ratus meter dari kampus. Dimana pondok itu tempat Agus mondok.

“Bu aku mau berngkat ke kampus dulu! Assalamu’alaikum…….!” Pamit dan salam Novi pada ibunya sambil sembari mencium tangannya..
“Wa’alaikum salam…..! hati-hati di jalan!” pesan ibu.
“Iya bu!” jawab Novi singkat.

Dihidupkannya motor itu dan rodanya ulai berputar menghantarkan Novi ke tempat atau rumah Laila yang jaraknya sekitar setengah kilo dari rumah Novi. Dengan sangat berehati-hati dia memfokuskan pandangannya ke jalan dan kendaraan yang di naikinya.
Dengan jarak yang tak terlalu jauh itu, dalam waktu seperempat meniat Novi sudah sampai dirumah Laila. Tapi tampak sepi rumah itu, hanya bunga-bunga yang terlihat dan pintu depan yang terbuka satu. Ia memarkirkan motornya dan mulai mendekati pintu.

“Assalamu’alaikum…….!” Novi mengucapkan salam.
“Wa’alaikum salam…….! Vi, masuk dulu!” ajaknya.
“Gimana? Udah siap apa belum?” Novi.
“Entar dulu lah, aku tak ambil buku dulu!” Laila.
“Ya udah tak tunggu di luar aja, eh jangan lupa daftar referensinya bawa sekalian!” Novi mengingatkan.
“Iya…!” jawabnya singkat.

“La, kamu mau berangkat ke kampus?” tanya ibu.
“Iya bu!” jawabnya singkat.
“Sama siapa?” tanya ibu lagi.
“Sama Novi! Ya udah bu aku berangkat dulu, assalami’alaikum…..!” Laila sembari mencium tangan ibunya..
“Wa”alaikum salam….! Hati-hati ya….!” Pesan ibunya.
“Mari bu…..! assalamu’alaikum……….!” Sapa dan salam Novi.

Dengan semangat mereka berdua pergi ke kampus dan dengan hati-hati pula Novi menggonceng Laila.

“La, ke kampus dulu ya?” tawarnya.
“Mau ngapain?” tanya Laila.
“Minjem buku yang kemarin.” Novi.
“o iya…ya……!” Laila.
“Kamu bawa kartunya kan….?” Novi.
“Bawa, mang kamu nggak bawa?” tanyanya.
“Aku nggak punya kartunya, mau buat, males…..!” Novi.
“Dasar Novi……!” Laila mengejek.
“Hehehe…….!” Novi meringis.

Terus melaju motor yang dikendarai mereka, semeter demi semeter jalan terlalui, tak terasa mereka sudah mendekati kampus dan masuk langsung ke dalam halaman kampus yang begitu rindang dan teduh dengan pohon-pohon. Langsung saja meraka memarkir motornya tepat di depan perpus, dan masuk tanpa permisi dan salam.
Dan tanpa berikir panjang, mereka mencari buku yang di carinya, lalu meminjamnya. Lampat laut mereka meninggalkan kampus dan menuju perpus pondok. Kebetulan Agus juga ada di perpus itu, karena sudah menjadi kebiasaannya kalau nganggur pasti keperpus.

“La, kamu masuk dulu!” Novi menyuruh duluan.
“Mang kamu mau kemana?” Tanya Laila.
“Nggak kemana-mana, udah kamu duluan!” Novi.
“Ya udah deh…..!” Laila mengalah.

Tanpa pikir panjang mereka berdua masuk perpus tanpa permisi dan salam seperti yang dilakukannya di perpus kampusnya kurang lebih setelah lima langkah dari pintu mereka masuk, tibatiba dipanggil oleh penjaga perpus yang duduk di sebelah kiri pintu perpus. Dengan sedikit tandatanya mereka mendekati penjaga itu.

“Mbak……mbak……!” panggilnya.
“Ada papa pak?” tanya Novi heran.
“Ngisi daftar tamu dulu dan alamat juga tanda tangan.” Jelasnya.
“Oh….! Kirain ada apa, maaf lho pak!” Novi menjawab paham.
“dua-duanya ya……!” tambahnya.
“Ya….pak!” Novi menjawab.
“Pak, saya boleh tanya nggak?” Laila.
“Tanya apa mbak!” Tanggap pak penjaga.
“Buku-buku tentang hukum Syari’ah di sebelah mana ya pak?” Laila.
“Di ruang sebelah barat, kalo di ruang sini kumpulan majalah, koran dan kitab-kitab kuno, kalo buku-buku umum dan agama ada di ruang sebelah barat.” Jelasnya.
“Oh….!” Laila paham.
“Kalo bukunya dipinjem boleh nggak pak?” tanya Novi.
“Kalo di pinjem keluar tidak boleh, tapi kalo butuh, kami siap memfoto copykan!” tambahnya .
“Oh…….! Ya udah makasih pak ya….! Kami mau masuk keruang buku dulu!” Novi mengakhirinya.
“Ya…..silahkan.” mempersilahkannya.

Dengan langkah sedikit pelan mereka memasuki ruangan buku-buku umum dan buku-buku agama yang ditunjukkan penjaga perpus itu. Dan terlihat di ruang itu hanya ada beberapa orang yang membaca atau mencari buku. Waktu itu biasanya sepi, karena banyak santi yang sekolah. Dan biasanya kalau sore perpus pondok itu rame pengunjung, terutama anak-anak sekolah.
Ketika mereka sedang asyik mencari buku-buku di rak yang paling kiri, di pojok deket jendela terlihat Agus yang seang asyik membaca buku, tanpa pikir panjang Novi lapor ke Laila dan merasa berdebar hatinya. Novi pingin bcara sama dia tapi Novi masih malu dan malu kucing.

“La…!” panggil Novi pelan.
“Ada apa?” tanya Laila keheranan.
“Ada Agus tu….!” Jelasnya nunjukin ke Laila.
“Emangnya kenapa?” tanyanya masih heran.
“Aku malu……..!” jelasnya.
“Malu kenapa sih….! Udah lah nggak usah dipikirin!” menenangkan Novi.
“Kamu ini gimana sih……..?” Novi cemberut.
“Kamu mau ngomong ama dia…..?” Tanya Laila.
“Iya…….! Tapi aku malu…..!” Novi.
“Ngapain malu, apa perlu tak panggilin…..?” tawar Laila.
“Nggak….nggak usah…….!” Novi menolaknya.
“Ya udah kita cari bukunya dulu, masalah mu ama dia entar aja!” Laila.
“Ya deh……!” Novi pasrah.

Dengan tak menghiraukan Novi, Laila terus berusaha mencari buku tentang Ekonomi Syari’ah yang dibutuhkannya untuk bahan tugas, sedangkan Novi dengan sedikit tak konsentrasi mencari buku dan sesekali melirik ke Agus.
……………

Dan tanpa disadarinya, Agus tiba-tiba pergi keluar perpus, karena ada saudaranya atau adiknya yang kuliah di Malang mampir ke pondok. Agus langsung pergi keruang tamu pondok. Dan tanpa selang watku yang lama, saudaranya melihat Agus di ruang tamu sedang ngobrol dengan penjaganya dan sekaligus temen sekelas kuliahnya.dan langsung masuk keruang itu.

“Assalamu’alaikum…………!” Adi mengucapkan salam.
“Wa’alaikum, salam…………!” Agus dan Anto menjawabsalam.
“Gimana kabarnya kak?” tanya Adi.
“Alhamdulillah baik……! Kamu sendiri?” Agus bertanya.
“Alhamdulillah juga baik…..!” Andi.
“Kamu tadi berangkat jamberapa dari Malang?” Agus.
“Habis subuh jam…..sekitar jam limaan…..!” Adi.
“Kamu nanti langsung pulang ato nginep disini dulu?” Agus.
“Kayaknya aku pulang entar sore aja…….aku dirumah paling lama satu minggu!” jelas Adi.
“Oh…….!” Agus.
“Maaf ya…..!sampean sodaranya mas Agus?” Anto nyambung.
“Iya!” Adi menjawab dengan ramah.
“Kuliah di Malang….? Udah semester berapa?” Anto bertanya lagi.
“Iya…..saya kuliah di Malang kota, dan sekarang alhamdulillah dah semester tiga!” jelas Adi pada Anto.
“Oh……! Banyak teman saya di Malang itu, tapi bukan kotanya. Temenku banyak yang kuliah di kampus deket terminal, sekitar dua kilo dari terminal. Tapi saya lupa nama kampusnya apa ya…….!” Anto menjelaskan temannya.
“Oh………ya saya paham………!” Adi mengangguk paham.

Dan waktu terus berlalu, begitu juga mereka mengobrol terus melaju.
……………………….

Sedangkan Laila dan Novi terlihat sibuk mencari referensi untuk tugasnya tanpa teringat lagi dengan Agus. Lama waktu berlalu, tak terasa jam sudah setengah dua belas, mereka berdua pun memeinta memfoto copykan halaman-halaman buku yang dibutuhkanya. Langsung mereka mendatangi penjaga dan menunjukkan halaman yang akan difoto copikan.

“Pak saya minta tolong foto copykan buku ini, dari halaman 173 sampai 179, dan buku ini halaman 121 sampai 132!” Laila menunjukkan.
“Oh……ya…! Uangnya dulu mbak buat foto copy!” penjaga perpus seminta mereka meninggali uang.
“Berapa pak?” tanya Laila.
“Mbak tinggalin dulu tiga ribu, nanti kalo sisa tak kasihkan!” jelasnya.
“Udah La pakek uangku dulu!” Novi menawarkan.
“Ya udah terserah kamu.” Laila.
“Ni …..pak! kapan bisa diambil?” Novi.
“Nanti soresudah bisa diambil.” Jelasnya.
“Ya udah tak tinggal dulu ya pak……..!” Novi.
“Ya……..silahkan…….!” penjaga.

Keluarlah mereka dari perpus dengan perasaan lega. Dan tak lama kemudian mereka kembali mengendarai motornya untuk ke kampus. Setelah beberapa meter keluar lingkungan pondok, tiba-tiba Novi teringat kalau tadi ada Agus di pojok dekat jendela perpus.

“La……tadi Agus ada di perpus ya…..?” Novi
"Lha....kan kamu tadi yang ngasih aku kalo ada Agus!" Laila.
"Iya aku lupa.......!" Novi.
"Kamu pingin ngomong ama dia.........?" Laila.
"Iya.........! udah nggak usah dipikirin......!" Novi.
"Ya udah.......sekarang makan dulu......terus sholat." Laila.
"Ya udah......bentar lagi juga masuk, nanti juga ketemu!" Novi.

Kembali mereka beraktivitas di kampus.
....................


By : Teater Mbureng.

0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More