KERTAS SOBEK .
Pada suatu malam, disebuah ruang tamu yang amat sederhana, duduk seorang ibu tua.
Ibu : malam ini dingin sekali, tidak seperti biasanya, ujan juga tidak, mendung pun tidak tampak menutup bulan, mungkin kemarau akan segera berakhir (menatap atap)
Dating anak perempuan disela-sela lamunan itu.
Mira : ada apa tho bu……! Kok bicara sendiri, nglamunin apa tho bu, sudah malam kok ya belum tidur. Apa nggak ngantuk?
Ibu : ora lho nduk, kok tumben malam ini dingin sekali. Tidak seperti biasanya.
Mira : mungkin saja kemarau akan segera berakhir. Ibu tidak ngantuk?
Ibu : ibu tidak bisa tidur. Kepikiran adik-adikmu!
Mira : kenapa dengan adik?
Ibu : masak kamu tidak mengerti maksud ibu? Kamu kan sudah lulus sekolah, sedangkan adik-adikmu masih kecil dan butuh biaya banyak untuk sekolah, apa lagi ibu sudah tua, ibu sudah tidak mampu lagi bekerja sebagai pembantu pak Kades.
Mira : jadi ibu bermaksud menyuruh Mira menggantikan pekerjaan ibu?
Ibu : ya…..memang kemauan ibu seperti itu. Ibu sangat berharap kamu dapat membiayai adik-adikmu sampai lulus sekolah sepertimu. Kamu keberatan?
Mira : sebenarnya Mira tidak mau, tapi demi adik-adik…..tidak apa-apa.
Ibu : syukurlah kalu kamu bisa memahami kemauan ibu.
Mira : tapi…………..!
Ibu : kenapa? Kamu masih ragu……..?
Mira : Mira bingung bu….!
Ibu : bingung kenapa?
Mira : Mira masih ingin kuliah, Mira ingin mencari pekerjaan yang hasilnya lumayan. Tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu buanyak. Yang penting bisa cukup untuk makan dan keperluan sehari-hari, dan juga masih tersisa sedikit untuk tabungan.
Ibu : Mira…………..ibu mengerti nduk! Tapi apa boleh buat, ibu sudah tidak bisa membiayai kamu kuliah, apa lagi adik-adikmu masih kecil, kamu perlu memikirkannya. Apa kamu rela adik-adikmu putus sekolah dan menjadi anak yang bodoh.
Mira : ya………..Mira mengerti bu…….! Walau Mira tidak bisa kuliah, tapi Mira ingin kerja yang hasilnya lumayan. Tidak seperti ibu, kalau Mira meneruskan pekerjaan ibu, Mira takut nanti kita tetap seperti ini.
Ibu : memangnya kamu pingin kerja apa? Cari pekerjaan sekarang tidak mudah, apa kamu punya pandangan bekerja jadi apa! Jadi pegawai restoran, pramugari, artis apa presiden? Kamu mikir nduk……ijazah SMA untuk apa? Jaman sudah berubah, kalau dulu ijazah SD saja bisa jadi presiden, kalau sekarang?
Mira : Mira tahu bu……! Ijazah Mira untuk apa, sekarang memang tidak terlalu berguna, hanya ijazah S1,S2 dan S3 saja yang bisa kerja enak dapat uang banyak. Mira juga ingin seperti itu, sudahlah bu, Mira akan bekerja, tapi tidak meneruskan ibu.
Ibu : terserah kamu nduk……..! ibu harap kamu dapat memikirkan adik-adikmu. Sudah, ibu mau tidur. (meninggalkan Mira sendirian)
Tinggallah Mira dalam kebingungan di ruang tamu.
Mira : ibu……….ibu……..kenapa ibu berpikiran seperti itu, sudah jelas pak Kades itu orangnya pelit, kalau aku meneruskan pekerjaan ibu, pasti nasib keluarga ini tidak akan berubah, tetap miskin dan terus miskin, apa lagi harga barang-barang setiap waktu terus meningkat naik, ah! Tapi aku harus mencari pekerjaan yang bayarannya lebih besar dari pembantu. Tapi apa ya………! Pramugari…….harus pintar segala hal, penjaga toko…..!gajinya sedikit, kerja kantoran, ijazahku hanya SMA. Ah! Kenapa nasibku begini menyiksa. (memukul-mukul meja, menaruh kepalanya kemeja dan tertidur)
Ibu datang melihat Mira tertidur di kursi ruang tamu dan membangunkannya
Ibu : mira……bangun nduk……! Wes subuh…..!
Mira : ibu……………..!
Ibu : kamu kok tidur di sini?
Mira : Mira ketiduran bu!
Ibu : yo wes sekarang kamu mandi terus sholat subuh! Mumpung belum kelihatan srengengene……!
Mira : iya bu!
Ibu : kasihan Mira. Maafkan ibu nak, ini sudah menjadi keputusanku, kamu harus bekerja, demi adik-adikmu. (prolog dan berjalan keluar dan kembali membawa kacang panjang)
Disela-sela ibu sedang memetik (nyokleki) kacang, datanglah Mira.
Mira : ibu mau masak apa?
Ibu : sayur asem. Adik-adik kamu bangunkan!
Mira : iya bu! (kebelakang)
Ibu : mira…mira! Apa sudah dipikirkan keputusanku tadi malam ya! Heh….!
Mira : sudah bu! (masuk dari belakang dan kemudian membantu ibu memetit kacang)
Ibu : mira. Apa kamu sudah memutuskan keputusan ibu tadi malam?
Mira : belum bu! Ya, nanti tak ke rumah pak Kades!
Ibu : pikirkan matang-matang, jangan karena terpaksa. Ibu harap kamu memakluminya.
Mira : iya bu, Mira sudah banyak merepotkan ibu, kini saatnya Mira membalas kebaikan ibu.
Ibu : syukurlah kalau kamu mengerti ibu. Tapi sekali lagi jangan karena terpaksa.
Mira : iya bu!
Ibu : tolong ini kamu cuci.
Mira : iya bu! (kebelakang)
Kemudian datang dari belakang Anton, adiknya Mira.
Anton : bu!
Ibu : kenapa nak…….? Sudah sholat?
Anton : sudah bu! Bu Anton butuh uang untuk bayar SPP. Anton berkali-kali dipanggil ke kantor, hamper setiap hari di Tanya kapan bayar.
Ibu : iyo le….! Ibu masih belum ada uang, nanti siang ibu coba carikan.
Anton : bener ya bu!
Ibu : iyo…….iyo..! sudah sekarang kamu ngaji dulu sana….!
Anton : janji ya bu……..!
Ibu : iyo…………iyo……..nak……! ngaji sana!
Anton : ok! (kebelakang)
Ibu : nduk……..! sayurnya sekalian kamu masukkan.
Mira : iya bu…….! (suaranya yang terdengar)
Ibu : bumbunya sekalian!
Mira : iya! (suaranya yang terdengar)
Kemudian datanglah Intan adik Anton dari belakang
Intan : ibu! (mendekati ibu)
Ibu : kamu sudah bangun nduk……..! sana cuci muka dulu!
Intan : iya! (kembali masuk)
Datanglah Tomo tukang kebun pak Kades
Tomo : assalamu’alaikum…………!
Ibu : wa’alaikum salam……! Monggo…….pinarak!
Tomo : nggeh…….terima kasih bu, hanya sebentar saja kok.
Ibu : lama juga tidak apa-apa, kalau memang tidak ada kerjaan!
Tomo : ya……pastinya ada kerjaan, wong saya sebagai kepala keluarga…hehehe….!
Ibu : ngomong-ngomong ada perlu apa, kok tumben pagi-pagi sudah kemari?
Tomo : begini lho bu Tatik, ibu kan sudah seminggu tidak bekerja di rumah pak Kades, saya disuruh pak Kades untuk meminta kepastian, apa Mira sudah siap menggantikan pekerjaan ibu?
Ibu : oh……begitu tho……! Saya tadi malam sudah bicara sama Mira, dan dia masih agak keberatan, tapi akhirnya dia mau juga!
Tomo : ya….kalau memang begitu keputusannya, saya harap Mira secepatnya bicara sama pak Kades, supaya enak……..! masalahnya sudah seminggu sejak ibu tinggal, pekerjaan rumah menjadi menumpuk.
Ibu : ya….nanti Mira tak suruh menemui pak Kades.
Tomo : terima kasih lho bu, kalau begitu saya mau pamit dulu…….!
Ibu : kok buru-buru……belum sempat dibuatkan minum kok sudah mau pamit!
Tomo : iya…….saya masih banyak kerjaan….lain kali saja saya main kesini lagi!
Kemudian datang Mira dari belakang, ketika pak Tomo berdiri pamitan.
Mira : eh pak Tomo……….! Kok buru-buru pak?
Tomo : iya masih banyak kerjaan, saya permisi dulu….assalamu’alaikum!
Ibu : wa’alaikum salam………….!
Mira : ada keperluan apa bu……….?
Ibu : pak Kades meminta kamu menemuinya…….!
Mira : masalah pekerjaan ibu?
Ibu : iya……..! nanti kamu ke rumahnya jam berapa?
Mira : jam sembilan bu.
Ibu : apa tidak sebaiknya sekarang saja?
Mira : ini kan masih terlalu pagi………!
Ibu : ya sudahlah terserah kamu saja……!
Mira : iya bu….!
Ibu : adikmu sudah mandi?
Mira : sudah bu…….!
Ibu : suruh sarapan, terus berangkat sekolah!
Mira : sudah sarapan bu……..!
Keluarlah Anton dan Intan dari belakang berpakaian sekolah.
Anton : bu, anton mau berangkat dulu, assalamu’alaikum……..! (mencium tangan ibu dan menunggu adiknya)
Ibu : wa’alaikum salam….hati-hati le….!
Intan : intan juga bu mau berangkat, assalamu’alaikum……. (mencium tangan)
Ibu : wa’alaikum salam……….hati-hati di jalan…..!
Intan : eh….sangune bu…….!
Ibu : seribu saja ya……..!
Intan : nggeh bu, terima kasih………!
Ibu : hati-hati……..!
In&an : nggeh bu……..! (keluar panggung)
Ibu : kamu sudah sarapan nduk?
Mira : sudah bu!
Ibu : apa tidak sebaiknya kamu ke pak Kades sekarang saja?
Mira : nanti saja bu, Mira mau nyuci dulu! (masuk kebelakang)
Ibu : terserah kamu nduk! (masuk kebelakang)
Ibu masuk kemudian membawa sulak kemudian disusul Mira
Mira : bu, Mira ke rumah pak Kades dulu!
Ibu : iya….hati-hati, salam dari ibu……!
Mira : iya bu….! Assalamu’alaikum (keluar panggung)
Ibu : semoga saja Mira bias meneruskan pekerjaan itu, kasihan Anton dan Intan kalau Mira tidak bekerja, andai saja ibu masih kuat nduk…….tidak mungkin ibu menyuruh kamu bekerja. Ibu juga ingin kamu melanjutkan kuliah, ibu juga ingin kamu sukses. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya bahagia, bisa hidup layak, bisa merasakan keadaan yang lebih baik dari apa yang ada dirumah ini.
Tiba-tiba Mira datang bersama Dodik pemuda sekampung
Mira : assalamu’alaikum……..bu……..!
Ibu : wa’alaikum salam…….lho kok sudah kembali ndu……..!
Dodik : bu……..! (menyalami ibu)
Mira : sudahlah bu……itu dibahas nanti saja, sekarang ibu tolong buatin minum.
Ibu : iya………! Duduk dulu nak.
Dodik : iya bu. (kemudian duduk) itu ibu kamu Mir?
Mira : iya mas, gimana mas? Rencana mas Dodik menyalurkan Mira ke luar negeri?
Dodik : ya…..itu terserah kamu, kamu mau apa tidak?
Mira : ya jelas mau lah mas, apa lagi sekarang ini aku disuruh ibu bekerja, demi adik-adikku, demi masa depan adik-adikku.
Dodik : itu sangat bagus sekali………sangat mulia keinginanmu, cita-citamu membahagiakan adik-adikmu sangat cemerlang, semoga saja kamu bisa cepat terbang!
Mira : amin…………! Tapi persyaratannya apa saja yang harus dipenuhi?
Dodik : itu gampang, kamu tinggal menyerahkan foto copy ijazah terakhir kamu, foto copy KTP, surat keterangan sehat, surat dari Kades dan mengisi formulir, itu saja.
Mira : oh….baiklah akan segera aku siapkan. Pakek bayar apa nggak mas?
Dodik : tidak, nanti sistemnya potong gaji selama setahun. Jadi kamu nanti biaya makan selama di penampungan, biaya pemberangkatan akan ditanggung PT INDOHONG, dan diambilkan dari potongan gaji kamu selama setahun. Gimana sudah jelas?
mira : jelas mas!
Ibu : silahkan diminum nak! (membawa minuman dan menaruhnya dimeja)
Dodik : iya bu, terima kasih.
Ibu : ngomong-ngomong nak ini samanya siapa?
Dodik : saya Dodik bu, saya teman lama Mira waktu di MTs dulu.
Ibu : oh…..rumah nak Dodik mana?
Dodik : rumah saya barat Balai Desa, jarak sekitar 300 meter.
Ibu : dengan rumahnya pak Mamat?
Dodik : kirinya gang tiga rumah bu!
Ibu : oh rumah yang warna coklat itu?
Dodik : benar bu, ya itu rumah saya.
Ibu : oh……….!
Dodik : maaf bu, saya mau pamit dulu, sudah siang.
Mira : kok buru-buru, mau kemana?
Ibu : iya nak dodik ini bagai mana sih, wong minumnya belum habis kok sudah mau pulang?
Dodik : maaf bu, saya masih banyak kerjaan, maklum saja…….pekerja rajin…..hehehe. mari bu, ra, saya permisi dulu.
Ibu : ya…..sering-sering main kesini, jangan kapok ya nak dodik…..!
Dodik : iya bu kalau ada waktu senggang, assalamu’alaikum (beranjak keluar panggung)
Bu,mir : wa’alaikum salam…………
Ibu : nduk, kamu tadi sudah ketemu pak Kades?
Mira : belum bu,
Ibu : kamu ini bagaimana sih nduk……?
Mira : mira tadi dijalan ketemu Dodik dan mira ditawari kerja, kan ngomong dijalan nggak enak, makanya ira bawa ke rumah,
Ibu : kan bisa nanti habis kepak Kades baru ke rumah! Memangnya kamu ditawari kerja apa nduk?
Mira : Mira tadi ditawari kerja keluar negeri, gajinga delapan juta perbulan bu, apa lagi persyaratannya sangat mudah, cukup mengisi formulir, menyerahkan foto copy KTP, ijazah, surat keterangan sehat dan surat keterangan dari pak Kades.
Ibu : nduk……nduk……kamu ini bagai mana sih nduk…….apa kamu tidak pernah baca berita, dengar berita, sering sekali penipuan berkedok penyalur tenaga kerja.
Mira : tenang saja bu……mas Dodik itu orangnya baik, nggak mungkin dia membohongi Mira, menipu Mira, Mira sudah lama kenal mas Dodik.
Ibu : iya…..ibu ngerti……tapi nanti kalau kamu kerja ke luar negeri, ibu siapa yang mengurus……adik-adikmu siapa yang ngurus……..kerja di luar negeri itu tidak gampang nduk………..!
Mira : iya bu…Mira ngerti….tapi ini demi ibu, demi adik-adik!
Ibu : apa kurang enak kerja di rumah pak Kades, sudah dekat rumah, dekat keluarga, dekat tetangga, coba kalau di luar negeri……siapa yang kamu kenal?
Mira : sudah lah bu……….Mira tahu, Mira bisa menjaga diri, mira janj akan sekuat tenaga bersabar, walau kengen dengan keluarga ini, tetangga dan semuanya. Mira yakin, Mira akan membahagiakan ibu dan adik-adik.
Ibu : ibu tidak ingin smua itu, kamu mau menuruti kemauan ibu saja, itu sudah membahagiakan ibu, toh gaji dari pak Kades saja sudah bisa menghidupi keluarga.
Mira : iya bu…..Mira ngerti, tapi apa kita akan terus-terusan begini, kadang ngutang sana ngutang sini, apa kata orang kalau mira bekerja tapi tetap saja tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga?
Ibu : hah, sudah nduk, terserah kamu! (duduk dan Mira masuk kebelakang)
Mira : maaf bu, ini demi ibu dan adik-adik. (masuk kebelakang)
Ibu : mira….mira…..ibu tahu kalau kerja di luar negeri itu gajinya banyak, tapi bukan itu yang ibu cari, ibu ingin kamu selalu ada didepan ibu, ibu mau kamu menemani ibu setiap hari, ibu tidak mau uang banyak, ibu tidak butuh rumah mewah, makanan enak, Mira…….Mira…………!
Mira : bu, Mira mau foto copy ijazah dan minta surat keterangan dani pak Kades. (keluar dari belakang membawa kertas). Assalamu’alaikum (keluar panggung)
Ibu : wa’alaikum salam………!
Datanglah Parjo dari luar
Parjo : kulo nuwun……..!
Ibu : monggo! Parjo, monggo pinarak!
Parjo : nggeh matur suwun!
Ibu : sebentar ya, saya ambilkan minum dulu……!
Parjo : tidak usah bu…..hanya sebentar saja kok.
Ibu : air putih saja.
Parto : bener bu, jangan repot-repot, saya hanya sebentar kok,
Ibu : ya sudah terserah, tapi kira-kira ada perlu apa?
Parto : anu bu, ini ada undangan tasyakuran di rumah saya. (menyerahkan kertas)
Ibu : tasyakuran apa to?
Parto : ini, istri saya kan habis pulang dari Arab dengan selamat dan sudah mengakhiri kerja di sana, sebagai wujud rasa syukur, kamu mengundang tetangga-tetangga untuk tahlil dan istighosah.
Ibu : oh…..tapi ngomong-ngomong mbak Tari lewat PT apa, kok bisa sukses?
Parto : PT INSAN MULYA bu! Memangnya kenapa bu?
Ibu : tidak…..Cuma pingin tahu saja…….!
Parto : oh………saya kira mau ikut jadi TKI, (tertawa canda)
Ibu : hah…… bapak ini bisa saja, saya kan sudah tua, mana mampu. (tertawa canda)
Parto : siapa tahu, eh bu saya permisi dulu ya, masih banyak undangan yang belum tersebar. (berdiri)
Ibu : oh….iya, terima kasih lho….!
Parto : sama-sama, yang penting bu Tatik besok bisa dating. Monggo bu! (keluar panggung)
Ibu : nggeh…..monggo…..!
Dodik itu kerja di PT apa ya? Mira mau kerja ke mana? Hah……..!
Datanglah Intan pulang sekolah
Intan : assalamu’alaikum…… (dating dan mencium tangan ibu)
Ibu : wa’alaikum salam. Eh…..sudah pulang…….! Langsung mandi makan sholat dan bobok, jangan keluyuran.
Intan : nggeh bu! (masuk kebelakang)
Ibu : intan…………intan………..!
Mira : assalamu ‘alaikum……….!
Ibu : sudah pulang! Dari mana nduk?
Mira : dari kantor desa, terus tadi ketemu Dodik, jadi surat-surat yang diperlukan sudah Mira kasihkan,
Ibu : apa kamu bener-bener tetap akan pergi keluar negeri?
Mira : iya bu, maafkan Mira bu, Mira tidak bisa menuruti kemauan ibu kerja di pak Kades, Mira janji akan tetap ingat ibu dan adik-adik, Mira akan mengirim sebagian gaji Mira untuk keperluan keluarga, Mira janji bu……! (duduk)
Ibu : ibu sarankan lagi nduk, lebih baik kamu tidak usah jadi TKW, ibu lebih senang kamu tinggal di rumah.
Mira : kenapa sih bu, selalu saja Mira di atur, Mira sudah besar bu, mira juga ingin membahagiakan keluarga, ibu dan adik-adik, kalau Mira dapat uang banyak, ibu jugakan yang senang. (marah dan berdiri)
Ibu : ibu tidak butuh uang, ibu hanya ingin ketenangan, kalau ibu tenang, ibu sudah merasa hidup bahagia. Ibu ini sudah tua nduk…..ibu ingin menghabiskan sisa umur ibu bersama keluarga, bersama kamu dan adik-adikmu. Kalau nanti ibu mati saat kamu kerja di luar negeri, bagai mana? (menangis)
Mira : ibu jangan bilang seperti itu!
Ibu : lalu ibu harus bilang apa? Semua perkataan ibu tidak ada yang mau kamu turuti.
Mira : maafkan mira bu, mira akan menuruti apapun yang ibu sarankan, tapi bukan masalah ini, mengertilah bu……!
Ibu : terserah kamu nduk! (duduk melemas di kursi sambil menangis)
Mira : maafkan mira bu……………..! (mendekati dan sungkem)
Lampu mati perlahan
Ibu terlihat melamun di kursi ruang tamu, saat hari pemberangkatan Mira telah datang. Dan tiba-tiba keluarlah Mira dari belakang membawa tas besar.
Mira : bu, Mira mau berangkat sekarang……..
Ibu : nduk, apa kamu tidak bisa membatalkan rencanamu?
Mira : kenapa sih bu, ibu selalu begitu?
Ibu : ibu tidak ingin
Mira : sudahlah bu, ibu percaya saja sama Mira, doakan Mira bisa sukses!
Ibu : (berdiam diri)
Mira : bagaimana Mira bisa tenang di sana kalau ibu tidak mau bicara.
Ibu : (masih berdiam diri dengan mata kosong)
Mira : ya sudah bu, maafkan Mira, Mira berangkat. Assalamu’alaikum (mencium tangan ibu dan langsung pergi dengan tasnya)
Ibu : (masih tetap berdiam diri)
Datanglah Tomo disela renungan Ibu.



0 Coment:
Posting Komentar