Rabu, 27 Juli 2011

Keputren

Keputren .
Monolog Version .

Karya .
AA. NAUVAL RIZA .

Durasi
40 Menit


Sinopsis

Ketika Keserakahan Dan Ketamakan Menguasai Seseorang, Saat itu Juga Sebenarnya Dia Telah Kehilangan Sesuatu Yang Sangat Berharga Yang Dimiliki Dalam Hidupnya. Bahkan Tempat Paling Aman Dan Nyaman, Berubah Menjadi Tempat Yang Paling Menakutkan Dan Berbahaya. Bahagia Yang Didamba Justru Berbuah Duka dan Derita Panjang. Sesal Tiada Guna, Saat Semua Tlah Terjadi….


BAGIAN I

Ah….ah……. Sekar….Sekar…. Maafkan aku nduk………maafkan bapakmu ini anakku…. Ah.. Sekar….Sekar….!!! (mengigau) Mayang…maafkan aku yang tak bisa menjaga anak kita dengan baik istriku……aku adalah Suami dan Bapak yang tidak berguna….huhuhuk!!

(Menagis/menyesali) Ternyata aku baru saja bermimpi lagi…ah.. mimpi buruk itu memang tak ada henti-hentinya mengusikku, seakan menagih hutang dosa yang telah aku lakukan……..ah…. Aku memang orang yang tak punya perasaan….aku memang bodoh dan tak punya nurani….. mestinya aku tak membiarkan semua ini terjadi…mestinya aku tak buta oleh ambisi ku…. Aku terlalu memaksakan diri!!!

Sepi…… kini aku hanya bisa merasakan kesepian. Meskipun sebagian mimpiku telah terwujud, Namun mimpi teridah yang pernah kubayagkan telah sirna dan tak mungkin menjadi kenyataan. Bahkan yang terburuk, aku justru kehilagan semua yang pernah aku miliki…. Oh… aku memang benar-benar bodoh!!!

BAGIAN II

Ruapanya hari telah mulai gelap.….. Ternyata tadi cukup lama juga aku tertidur dan bermimpi. Badan ini rupanya sudah mulai capek dan rapuh. Begitu mudahnya aku tertidur hanya karena tak ada apa-apa yang aku kerjakan. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu tanpa pernah aku sadari…..hehehehe. Kuntho yang dulu perkasa dan begitu kuat, kini rupanya hanya seorang lelaki tua yang sudah sangat kelelahan. Aku sungguh tak menyangka akan menjadi seperti ini…. aku pikir kekuatan dan keperkasaanku tak akan pernah ada habisnya… Hahahaha..

Aku Kuntho Wibisono… aku tak pernah lelah dan berhenti melakukan pekerjaan-pekerjaan berat walau harus menguras seluruh tenaga. Karena kekuatan dan tenagaku, dulu aku begitu ditakuti dan disegani oleh banyak orang. Bahkan karena keperkasaanku, aku menjadi tangan kanan Ndoro Wiryo Sugondo….Seorang Priyayi dan Penguasa, yang paling ditakuti oleh semua orang di daerah ini. Ya…aku seorang kepercayaan dan abdi yang begitu diandalkan. Asalkan majikanku senang … asalkan dia puas dan memberiku imbalan yang besar, ….. apapun pasti aku lakukan!!!.

Setiap kali aku berhasil melakukan tugasku dengan baik… ndoro Wiryo selalu memujiku. “Bagus Kuntho. Kau memang pembantuku yang paling setia dan bisa diandalkan…. Bagus..bagus !!” itulah yang selalu diucapkannya padaku, setiap kali aku berhasil Melakukan tugas yang dia berikannya padaku…

Pada suatu ketika, aku bakan pernah menyelamatkan nyawa majikanku. Saat itu aku sedang dalam perjalanan meninggalkan desaku untuk mencari pekerjaan. Ditengah perjalanan, saat melewati daerah yang sangat sepi dipinggiran hutan, tiba-tiba aku melihat sebuah kereta kuda yan sedang dikepung oleh beberapa orang bersenjata. Aku bergegas memeriksa dari dekat dan mencari tahu, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Saat aku mendekat, “Perampok…. ,” begitu kataku dalam hati. Senjata mereka telah terhunus. Tatapan mata mereka yang tajam dan menampakan kebengisan, rupanya telah membuat kusir menjadi ciut nyali dan memutuskan untuk menghentikan laju kereta kuda. “Dasar penakut…..seharusnya kau tabrak saja berandal-berandal kecil ini, dan tak usah dihiraukan,” gerutuku dalam hati.
“Hai… cepat turun dan serahkan kereta dan semua harta berharga yang kau bawa itu kepada kami!!” begitu kata salah seorang dari perampok, yang aku yakini adalah pemimpin mereka. Tampangnya memang lebih angker dibanding yang laiinnya, dan nampak ditakuti. “Cepat.. jangan bengong saja. Atau aku akan menghabisi nyawa kalian..” sambungnya mengancam. Diapun tertawa terbahak-bahak, dan tawa itu pun diikuti seluruh anggota gerombolan.

Sementara didalam kereta aku melihat wajah seorang majikan yang sangat cemas dan tangannya gemetaan. Dia tak tahu mesti berbuat apa….. bingung, harus menyerahkan harta atau keilangan nyawanya.

“Hai…Kalian menginginkan semua Harta dalam kereta kuda itu…?” kataku sambil muncul dari persembunyianku. “Boleh!! Tapi kalian harus bisa melangkahi mayatku dulu. Jika kalian berhasil, kalian boleh ambil semuanya,” ujarku. Mendengar kata-kataku, Gerombolan perampok itu Nampak sangat marah kepadaku yang tiba-tiba muncul dan ikut campur.

Aku melihat wajah orang dalam kereta nampak penuh harapan padaku, walaupun sedkit cemas. Aku hanya sedikit melempar senyum, untuk membuatnya tenang dan berbesar hati.

Gerombolan perampok itupun mulai mengepung dan mengeroyokku dengan beringas. Seorang diri aku menghadapi mereka. Sedikitpun aku tak merasa gentar atau takut. Satu persatu kurobohkan lawanku… akhirnya hanya tersisa satu, yaitu pimpinannya.

Wajahnya yang tadi nampak ganas dan garang, kini berubah drastic. Kini dia tak lebih hanya seorang leaki dekil yang mulai pucat pasi karena ketakutan …”Hehehe….”aku tertawa dalam hati. Aku merasa lucu melihat wajahnya. Celananya tiba-tiba mulai basah… rupanya dia terkencing-kencing dicelana karena takutnya…. Hahahaha lucu sekali.

“Kau masih mau harta ini, atau kau memilih aku membiarkanmu hidup??” kataku. Dia semakin gemetar. Kakinya lemas dan jatuh ketanah, …..bersujud didepanku. ”Ampun…ampun,……Tolong biarkan aku hidup” katanya memohon padaku. Ketika aku menyuruhnya pergi, dia bergegas meninggalkan kami.

Majikan yang tadinya nampak ketakutan dalam kereta, tiba-tiba keluar setelah melihat perampok yang mecegatnya tadi, kini telah berhasil aku usir. Dia merasa senang dan berterima kasih kepadaku. Lalu diberinya aku imbalan yang sangat besar.
BAGIAN III

Sejak peristiwa itu, aku menjadi kaki tangannya dan menjadi orang yang paling dia percaya. Aku tak pernah menyangka jika akhirnya dia menjadikanku seorang penjagal berdarah dingin bagi setiap lawan maupun para pesaingnya.Dari seorang yang biasa hidup kekurangan, kini aku menjadi pembunuh berdarah dingin dan mendapat upah besar dari seorang majikan yang ternyata berhati binatang.

Aku memang mendapatkan uang dan harta yang selama ini aku cari, tapi aku juga berubah menjadi anjing buas yang selalu kelaparan dan tak bosan-bosannya melakukan apapun yang diperintahkan oleh majikanku hanya demi imbalan….

Semua kisah hidupku ini tidak akan terjadi, jika saja aku tidak hidup dalam kemiskinan. Nasibku mungkin tak akan menjadi begini, jika aku tak terlalu berambisi mendapatkan harta yang melimpah. Awalnya aku hanya ingin memperbaiki kehidupanku untuk masa depanku dan anakku.

Dulu aku memiliki seorang istri yang sangat cantik dan begitu penuh kasih. Sri Mayang,…begitulah namanya. Walau hidup penuh kekurangan dan menderita, dia begitu setia dan tetap mendampingiku dengan penuh kesabaran. Kami tetap bisa merasa bahagia meskipun dalam penderitaan hidup, apalagi sejak kehadiran anak kami, Sekar Arum. Ya… kami begitu bahagia sekali walau untuk makan saja kami merasa sangat kesusahan.

Sayangnya,….. bahagia itu tak mampu bertahan. Istriku sakit, dan lama-kelamaan menjadi semakin parah. Apalagi aku tak mampu membawanya berobat kepada tabib. Aku telah bekerja keras sekali…. Bahkan aku juga mencari pinjaman uang kepada saudara ataupun tetanggaku. Tak seorangpun bersedia memberikan pinjaman dengan alasan kuatir aku tak mampu mengembalikan… aku sangat kecewa.

Sri Mayang akhirnya harus meninggalkanku dengan anak semata wayang, buah cinta kami berdua… Aku begitu kecewa pada nasibku!!! AKu berjanji dalam hati kecilku … aku harus mendapatkan harta dan uang yan banyak, …aku tak mau menderita lagi. Aku dendam dengan nasibku…

Aku yang menderita kehilangan istriku, kini juga harus kehilangan anakku… Demi obsesiku, terpaksa aku menitipkan Sekar Arum pada salah satu kerabatku. Sedih memang…. Tapi itu yang terbaik saat itu.

BAGIAN IV

Sejak bekerja pada ndoro Wiryo aku benar-benar menjadi pribadi yang berbeda. Aku menjadi rakus dan kehilangan nurani. Perasaanku menjadi mati dan kehilangan kendali. Uang… uang… dan uang. Hanya itu yang ada di benakku. Apapun yang diperintahkan kepadaku, semuanya pasti kulakukan tanpa banyak kata.

Saat pertama kali aku melakukan Tugas kotor dari Ndoro Wiryo Sugondo….saat pertama kali tanganku ini dikotori darah orang-orang yang tak berdosa…….aku muak dan rasanya ingin mutah. Tapi semakin sering aku melakukannya, semakin aku mati rasa. Celakanya, aku bahkan menikmati apa yang kulakukan itu…….

Sebagai seorang penguasa yang berimpah harta, majikanku itu masih juga merasa tak terpuaskan. Nafsunya untuk menguasai apapun semakin bertambah semakin dia haus keuasaan. Siapapun yang berani menentangnya, pasti akan dilenyapkannya. Nafsunya akan perempuan tak juga terpuaskan. Sudah puluhan….bahkan ratusan wanita telah menjadi korban kebiadabanya itu. Akulah algojo bagi mereka yang berani menentang dan menolak keiginan Wiryo Sugondo…..

Dan Keputren ini telah menjadi saksi kebiadaban dan kebuasan Wiryo Sugondo majikanku terhadap para perempuan. Semuanya dipaksa melayani nafsunya yang tak pernah terpuaskan. Mereka tak akan mampu berbuat apa-apa. Siapupun yang menolak pasti akan kuhabisi atas perintah darinya. Keputren ini benar-benar Nereka bagi para perempuan yang terkurung didalamnya. Keputren yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan paling nyaman bagi para wanita ini, justru menjadi tempat paling menakutkan didunia.

Tak ku sangka, suatu hari……. Saat hari masih sangat pagi, aku terbangun dari tidurku karena mendengar pintu diketuk. Dibalik pintu itu telah berdiri seorang wanita muda yang sangat cantik. Aku terkejut!! Karena wajahnya itu irip sekali dengan Sri Mayang……..istriku yang telah meninggal. Mulutku tak mampu berkata apa-apa…hanya mataku yang menatap nanar, memandanginya dari ujung rambut hingga kaki. Aku seakan terbius oleh pemandangan didepanku, sampai akhirnya aku dikejutkan oleh suara yang keluar dari bibirnya…….”Bapak…..Bapak, ini Sekar Pak…….Ini Sekar Arum Putri Bapak….!!!” Ucapnya.

Perasaanku begitu bercampur aduk saat itu. Betapa senang dan Gembiranya aku dapat bertemu kembali dengan satu-satunya orang yang aku cintai dalam hidupku, setelah kematian istriku. Satu-satunya alasan kenapa aku masih bertahan hidup saat Sri Mayang meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Dialah yang membuatku bekerja keras, mengumpulkan seluruh harta. Dia masa depan dan tujuan hidupku. Dialah yang membuatku rela melakukan segalanya……..

Dilain sisi…….aku begitu sangat ketakutan. Anakku yang kucintai datang kekandang harimau, dia datang mengetuk pintu neraka!! Jika sampai Ndoro Wiryo sampai melihat Sekar Arum…..pasti dia akan tertarik dan menginginkan putriku itu, dan menjadikannya salah salah satu perempuan pemuas nafsunya. Pasti Ndoro Wiryo tak akan membiarkan Sekar dan akan mengurungnya di Keputren ini!!! Tidak…aku tak ingin hal itu terjadi. Sekar harus pergi…. Dia harus menjauh dari tempat jahanam ini.

“Kenapa kau datang ke tempat ini nduk? Sekarang cepat kamu pergi, dan jauh dari sini!!!” kataku meski hatiku tak tega. “Kenapa pak? Jauh-jauh Sekar datang kesini….karena Sekar hanya ingin bertemu dengan Bapak. Sekar kangen……Sekar ingin hidup bersama-sama dengan bapak” ujarnya memprotes kata-kataku tadi. Akupun menjelaskan kepadanya, “ Bapak tau Sekar,..bapak juga ingin kita berkumpul kembali seperti dulu. Tapi sekarang belum saatnya. Pergilah…….bapak nanti akan datang menjemputmu!!” “Tidak pak… Sekar tak mau pergi. Sekar hanya ingin bersama-sama bapak…” protesnya lagi.

Aku semakin kebingung…..bagaimana mengatasi masalah ini. Aku menyuruhnya pergi, tapi dia bersikeras ingin tinggal bersamaku. Padahal aku tahu, jika dia sudah masuk ke Keputren ini, dia tidak akan pernah keluar lagi…… Hal itulah yang paling aku takutkan, tapi Sekar tidak menyadari semua itu.

Ketakutanku akhirnya terbukti juga. Ndoro Wiryo tiba-tiba sudah muncul didepanku. Wajahnya begitu berbinar-binar melihat paras cantik anakku. Dia lagsung tertarik dan menginginkan Sekar Arum anakku…….. Lemas rasanya seluruh tulangku, aku tak rela anakku menjadi korban kebejadan majikanku……..tapi aku juga tak berani melawan kehendaknya. Apa yang harus aku lakukan……???

Nasi telah menjadi bubur….. Sekarpun akhirnya terkurung di keputen ini. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya mampu berdoa, semoga Sekar dapat melalui semua ini…. Aku merahasiakan kenyataan bahwa Sekar adalah anakku. Jika tahu Sekar adalah putrikuNdoro Wiryo pasti akan menghabisiku.

Karena senangnya mendapatkan perempuan yang sangat cantik. Ndoro WIryo memberiku imbalan yang besar…sangat besar melebihi pemberiannya selama ini kepadaku. Selain itu Sekar juga diberi pakaian indah dari bahan Sutera, perhiasan dan hadiah-hadiah lain untuk mendapatkan hati Sekar…… Namun Sekar benar-benar perempuan hebat yang berhati tegar seperti ibunya. Dia tak tergoda sama-sekali
Dia terus menolak setiap kali dirayu dan tak mau menyerahkan dirinya pada Wiryo Sugondo.

Saat mengetahui apa yang selama ini aku kerjakan, Sekar marah dan mencoba menyadarkan aku. “Sudah berapa banyak orang yang menjadi korban ambisi dan kebejadan majikan bapak itu? Sudah berapa banyak darah yang sudah bapak tumpahkan demi kepuasan dan nafsunya?” begitu kata Sekar. “Apa artinya harta yang melimpah jika harus mengorbankan orang lain. Bahkan Bapak Rela menyerahan Sekar hanya demi harta. Ini yang bapak inginkan?” tuduhnya. Aku tak mampu berkata-kata. “Bapak hanya ingin melakukan apa yang terbaik untuk kita, agar kia tak lagi menderita dan kekurangan. Bapak ingin mencari bekal untuk kehidupan kita kelak anakku,” sanggahku atas tuduhan yang dia lontarkan tadi. Sekar tetap berusaha menyadarkanku dan mengajakku meinggalkan keputren ini.

Setelah sekian lama terus mendapatkan penolakan, ndoro WIryo pun menjadi marah. Dia akhirny memaksa Sekar untuk melayaninya. Sekuat tenaga Sekar melawan nafsu WIryo……
Dia berteriak-teriak mengharapkan pertolonganku. Hatiku seakan disayat-sayat…..kaki dan tanganku seakan tak mampu bergerak. Aku hanya diam………aku tak bisa berbuat apa-apa untuk anakku Sekar.
Tanpa kusadari, aku berhasil mendobrak pintu keputren dari luar. Tapi aku kebingungan mencari alasan bagaimana menjelaskan pada Ndoro Wiryo…. Saat pintu terbuka, Sekar memanfaatkannya untuk lari…
Ndoro Wiryo pun murka. Dimakinya aku habis-habisan. Dan diapun menyuruhku mengejar Sekar dan membawa dia kembali kepadanya.

Aku membujuk Sekar agar mau kembali ke keputren. Jika Tidak, pasti Ndoro Wiryo akan membunuh aku. Aku membujuk Sekar, dan berjanji akan mencari cara agar dapat membebaskannya dari keputren nanti. Sekar akhirnya menurut. Dia bahkan meminta agar aku mau mengatakan kepada Wiryo Sugondo kalau Sekar adalah anak kandungku……….” Tapi aku khawatir Ndoro Wiryo malah marah dan membunuhku. Aku tak mungkin mengatakan itu ndok” jawabku pada Sekar.

Belum selesai pembicaraan kami. Ndoro Wiryo sudah muncul dan kembali memaksa sekar melayaninya….. Saat terdesak oleh paksaan Ndoro Wiryo, Tiba-tiba sekar mengancamnya dengan kerisku yang tadi tanpa sengaja aku letakkan. “Awas, jangan kau berani-berani mendekat Wiryo! Atau aku tak akan ragu-ragu menancapkan Keris ini…” kata Sekar sambil menodongkan keris, tepat didadanya sendiri.
Aku yang terkejut langsung mencegah tindakan nekat Sekar. “Apa yang kau lakukan? Jangan berbuat nekad anakku!!” cegahku, dan tanpa sadar aku telah membuka rahasia itu.

Ndoro Wiryo tertegun mendengar ucapanku. “Jadi Sekar adalah anakmu Kuntho??? Hahahaha” tanyanya padaku sambil tertawa. Aku melihat ada kekecewaan mendalam dalam tawanya yang hambar. Dia merasa bodoh karena aku telah berhasil menipu majikanku sendiri. Aku memohon ampun dan meminta kepada majikanku agar melepaskan Sekar. Aku berjanji mencarikan wanita sebagai pengganti Sekar.

“Baiklah Kuntho. Aku akan menuruti keiginanmu……..aku akan menikmati tubuh anakmu yang cantik itu didepan matamu sendiri,” kata Ndoro Wiryo. Aku kaget dan sangat ketakutan. Akupun memegangi kakinya dan memohon padanya. Tapi aku malah dihempaskan hingga jatuh terjengkang. Dia yang sudah kesetanan dan merasa aku bodohi, mendekati Sekar dengan penuh nafsu. Aku hanya tertegun dan masih terlentang saat Sekar…….anakku yang aku sayangi menancapkan keris kejantungnya sendiri. “Sekar…..Sekar apa yang kau lakukan nduk. Maafkan bapakmu yang tak punya perasaan ini anakku,” aku menangisi sekar yang sudah jatuh terkapar berlumuran darah….

Melihat sekar berbuat nekad, Wiryo semakin marah dia memaki-maki Sekar yang memilih mati dari pada melayaninya dan berlimpah harta. Dia juga memaki aku, “Dasar jongos sialan!! Gara-gara kamu aku kehilangan perempuan yang seharusnya menemani malam-malamku Kuntho….keparat kau!!” Aku hanya bisa menangisi kematian putriku dengan segala penyesalanku. Aku telah kehilangan satu-satunya harapan hidupku.

Aku baru menyadari…apa yang kulakukan selama ini telah sia-sia. Aku telah kehilangan nuraniku, hingga satu-satunya yang berharga dalam hidupku lenyap……..semua hanya karena ambisiku untuk harta. Aku kecewa aku baru sadar setelah anakku menjadi korban… bodohnya aku!
Kukatakan pada WIryo,”Ya…Kau dan aku memang sama-sama manusia yang tak berguna,” Wiryo murka mendengar ucapanku.

“Berani sekali kau Kunto…..kau lebih rendah dari pada anjing!!! Anjingpun tak akan berani menggigit tangan orang yang telah memberinya makanan !!” maki WIryo. Aku yang sedih karena kematian anakku menjadi kehilangan kesadaran dan balik memaki orang yang menjadi majikankku. Aku marah pada diriku sendiri, juga pada Wiryo yang membuat anakku mati. Tak terima, akupun marah pada Wiryo dan memakinya juga.

“Kau dan aku sama-sama binatang buas yang selalu kelaparan dan tak bosan-bosannya mencari mangsa Wiryo. Lalu kenapa? Aku juga yang telah melakukan semua pekerjaan kotormu, untuk kekayaanmu, untuk ambisimu, untuk kekuasaanmu Wiryo…”ejekku. “Bajingan kau Kuntho.. kau memang penjilat,” jawabnya. “Aku memang penjilat, tapi aku tidak bodoh Wiryo……. Aku pasti sudah lama kau bunuh jika aku tak melakukan pekerjaan kotormu. ..”.

“Keputren ini tak lebih dari neraka Wiryo. Keputren ini tak lebih dari kandang pemuasan nafsu binatangmu….. dan Keputren ini .. telah menjadi saksi kebiadaban kita berdua Wiryo……hahahaha…
Hahaha….. Kenapa matamu melotot???? Kau ingin membunuhku??? Kau ingin menghabisiku, seperti kau juga menghabisi nyawa orang-orang yang berani menentangmu…..iya…..hahahaha. Wiryo sangat marah. Kami berdua sama-sama marah dan emosi….. Ayo Wiryo.. Aku telah kehilangan segalanya….ayo…. biarkan aku bersatu kembali dengan anak dan istriku…….ayo bajingan………hahaha

Kami berdua terlibat dalam perkelahian dan pergumulan hebat….. aku yang sudah marah besar dan putus asa, jadi kesetanan dan membabi buta. Sementara Wiryo yang juga marah karena dilecehkan oleh pembantunya……menyerangku degan buas……

Aku juga tak tau apa yang terjadi…… tiba-tiba aku mendengan Wiryo menjerit kesakitan. Darah mengucur deras dari dadanya…. Dan diapun mati…….
Aku telah membunuh Wiryo Sugondo. Aku telah membunuh penguasa bejad dan angkara murka. Aku telah membunuh bangsawan kaya raya.

Seharusnya aku senang telah berhasil membunuh Wiryo……aku dapat mewarisi semua harta dan kekayaan, rumah megah…keputren… semua kini menjadi milikku semuanya…….aku kaya!!! Tapi aku sangat sedih…aku kehilangan semuanya,…. Istriku, anakku, masa depanku………semuanya sirna dan menghilang. Aku baru menyadari kata-kata Sekar. Aku baru menyadari ….mata hatiku telah dibutakan oleh harta dan kekayaan. Semuanya karena aku dendam pada masa laluku yang selalu kekurangan…aku menyalahkan kemiskinan karena kematian istriku…….

Aku sadar bahwa yang paling berharga didunia ini bukanlah harta ataupun kekuasaan. Tetapi yang terpenting dari semua itu adalah kebahagiaan. Hartaku adalah keluargaku…… hartaku adalah anak dan istriku yang aku cintai. Semua Harta dan kekayaan tidak pernah sebanding dengan keluargaku.

Semua harta peninggalan Wiryo Sugondo akhirya aku bagi-bagikan kepada orang-orang di sekitar sini yang lebih membutuhkan. Aku hanya seorang sendiri, aku tak membutuhkan banyak harta yang berlebih. Setelah membagi-bagikan harta itu…kini aku justru merasa lebih bahagia. Aku hanya lelaki tua yang rindu pada istri dan anakku. Aku hanya menunggu saat untuk kembali bersatu bersama orang-orang yangkucintai. Aku menunggu penghakiman atas semua dosa-dosaku…



Tebuireng, 07 DES 2010 19:43 WIB

0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More