Rabu, 27 Juli 2011

Karya Mati

Karya Mati

Kisah dua orang seniman yang hidup tak layak dan tak wajar. Marta Karta Sanjaya dan Prabowo Harjo Kuncoro adalah dua orang seniman sastra yang tak pernah laku karya-karyanya. Dua sahabat yang akrab sejak kuliah di jurusan seni ini adalah korban modernisasi yang semakin tak terarah, demokrasi yang tak jelas dan korban musnahnya pecinta seni pribumi.
Hidup mereka terlunta dengan segunung nasib buruk yang dipikulnya, keluarga yang berantakan, ekonomi (karya-karyanya) yang tak laku, pengusuran, dan seabrek nasib hitamnya. Marta Karta Sanjaya adalah orang asli Sumatra berusia 32 tahun yang ditinggal istri dan anaknya (ketika berumur 2 tahun) karena alasan istri dia hanya pengangguran dan harapan yang besar dari sastra-sastranya laku mahal, padahal dia sering menyabet juara 3 dalam lomba-lomba dan festival-festival sastra di kampusnya dulu. Prabowo Harjo Kuncoro adalah orang asli Jawa Tengah berusia 31 tahun yang ditinggal mati istrinya tanpa meninggalkan seorang anak pun, menjadika ia termenung sepanjang hari dengan terus berkarya tanpa adanya keinginan menjualnya. Bahkan karena ia tenggelam pada kisah sedihnya, ia berjanji untuk menduda sepanjang hidupnya..

Karya Mati
Karya : Mex dan Teronk

Disuatu pagi yang cerah, di sebuah tempat tinggal kumuh, hidup seorang duda dengan segudang perasaan benci, muak, sedih, dendam dan segala perasaan yang membuat ia bertahan pada status dudanya.
Harjo : Uah………. sudah cerah rupanya! Uah……..! tapi apalah kata, mataku masih
lengket. Uah…….! Alas ini sajalah….! (kembali membaringkan di atas koran)
Apalah daya pijarmu menembus kelopak mataku, rapat pejam tak berkutik melawan suryamu, Alah……! Gelap saja enaknya! (kembali masuk kegelapan)
Tak berselang lama, sebuah bungkusan plastic jatuh pada kediaman sang duda itu.
Harjo : Asu! Ngganggu wae, ora ngerti wong lagi susah tho?
Kembali beberapa bungkusan plastic bergantian memukuli atap sengnya.
Harjo : Asu……….! (keluar) ora ngerti sopan santun yo? Aku iki menungso, aku ini
bukan binatang. Asu! (memaki ke atas) ya alam…….dimana kedamaianmu….. kenapa hari-hariku seburuk kakus, bertempat kotoran-kotoran manusia…..! oh... alam raya…..! bukakan linagmu, biarkan aku masuk dan tenang di dalammu…! (bersedih). Ah, percuma saja!

0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More