Rabu, 27 Juli 2011

Ismail

Ismail

Di sebuah keluarga kaya yang penuh dengan kedamaian, ketentraman, kedermawanan, keiklasan, cinta, kasih sayang, lahirlah seorang anak laki-laki yang mungil penuh kecerahan. Rupa yang indah, tawa yang merdu, tangis yang indah meneteskan air mata jernih penuh kelembutan. Ismail, nama yang dilekatkan ibunda pada anaknya yang baru lahir itu.
Ibrahim : semoga saja anakku lahir dengan selamat. Ya Tuhan, berilah keselamatan
pada istri dan anakku.
Pembantu : tuan…..tuan……! anak tuan lahir, lahir dengan selamat.
Ibrahim : Alhamdulillah……..! terima kasih ya Tuhan…….., Engkau telah
mengabulkan permintaanku.
Anakku laki-laki atau perempuan?
Pembantu : laki-laki tuan. Wajahnya mirip dengan tuan, tangisnya jernih bagai air
yang mengalir dari sumbernya.
Ibrahim : ya sudah, sekarang kamu siapkan peralatan untuk membersihkan
anakku.
Pembantu : baik tuan!
Ibrahim : oh iya tolong kamu panggilkan Salman, suruh dia kemari secepatnya.
Pembantu : baik tuan! (Pergi keluar)
Ibrahim : ya Tuhan, terima kasih, Engkau telah mengabulkan permintaanku, aku
akan memenuhi janjiku, jika Engkau menyelamatkan anakku dan istriku, aku akan menyedekahkan domba sebanyak 1.000 ekor dan onta 100 ekor. Sekarang engkau telah mengabulkan permintaanku dan sekarang aku akan memenuhi janjiku.

Datanglah Salman.
Salman : ada apa tuan memangil saya?
Ibrahim : oh iya, salman tolong kamu siapkan 1000 ekor domba dan 100 ekor onta
yang gemuk dan sehat.
Salman : baik tuan, tapi untuk apa tuan?
Ibrahim : aku dulu sudah berjanji pada Tuhan, jika anakku lahir dengan selamat
dan istriku juga selamat, maka aku akan menyedekahkan 1000 ekor domba dan 100 ekor onta. Itu janjiku.
Salman : maaf tuan, apa itu tidak kebanyakan?
Ibrahim : bagiku, 1000 ekor domba dan 100 ekor onta tidaklah berat, itu sebagai
bukti kecintaanku pada Tuhan. Bahkan, jika Tuhan menghendaki lebih dari itu. Aku akan tetap memenuhinya.
Salman : baiklah kalau begitu tuan, saya akan mempersiapkan apa yang tuan mau.
Ibrahim : Salman, tolong sekalian kamu sembelih, dan kamu suruh abdi dapur
memasaknya.
Salman : baik tuan.
Ibrahim : dan tolong sekalian kamu umumkan pada orang-orang kampung, suruh
semua berkumpul petang nanti, aku akan menjamu mereka semua.
Salman : baik tuan. Saya permisi dulu.
Ibrahim : sekarang aku akan melihat anakku, tapi siapa ya namanya nanti! Ah,
biar istriku saja yang memberi nama.

Setelah 7 tahun berlalu, anak itu tumbuh dengan normal, cerdas, pandai, berbakti kepada orang tua, sopan, santun, sederhana, tampan, baik hati dermawan, sehingga membuat Ibrahim ayahandanya begitu cinta, sayang yang sangat berlebihan. Tiap hari ia memantau anaknya kemanapun dia pergi bermain. Begitu cintanya ia pada anaknya, bagaikan mendung dengan langit, bagaikan pantai dengan laut, bagaikan pohon dengan hutan, batu dengan gunung, menyatu dalam waktu.
Begitu juga ibundanya, sangat menyayangi anak laki-lakinya itu. Pada suatu hari, Ibrahim mendapatkan mimpi buruk dari tidurnya dan hampir setiap malam hingga tiga kali.
Ibrahim : mimpi apa aku semalam, buruk sekali. Mana mungkin aku harus
menyembelih anakku Ismail, aku sangat cinta pada anakku, aku sangat sayang sekali pada anakku itu. Kenapa aku harus menyembelih anakku? Itu pertanyaanku, aku siap berderma apapun dan seberapapun, tapi kalau anakku Ismail, aku tak akan pernah mau.
Ibunda : ayah……….kenapa ayah bersedih, apa gerangan yang membuat engkau
menangis, meneteskan air mata? Siapa yang membuat engkau bersedih?
Ibrahim : tidak ada apa-apa istriku?
Ibunda : tapi kenapa engkau menangis, tidak mungkin engkau menangis tanpa
sebab.
Ibrahim : tidak apa-apa, aku tadi malam mimpi buruk!
Ibunda : oh…..ibu kira ada apa, hanya mimpi buruk saja kok sampai menangis.
Memangnya engkau mimpi apa ayah? Kok sampai menangis.
Ibrahim : aku di perintahkan menyembelih anakku, Ismail!
Ibunda : apa? Menyembelih Ismail? Tidak….tidak….!
Ibrahim : tapi itu tak perlu kau pikirkan, mungkin itu mimpi dari setan.
Ibunda : iya, semoga saja itu mimpi dari setan, bukan dari Tuhan.
Ibrahim : oh iya, kemana anakku Ismail? (mengusap air mata)
Ibunda : ia ada di belakang dengan pembantu. (mengusap air mata)

Tak berselang lama Ismail berlari ke arah orang tuanya.
Ismail : ayah……..ibu……..!
Ibrahim : kenapa nak……?
Ibunda : ada apa anakku?
Ismail : di belakang ada ular besar, aku takut ibu……!
Ibrahim : sudah…..kamu tenang saja nak, ayah akan membuang ular itu, kamu
tunggu saja di sini ya nak…..! (keluar)
Ismail : ia ayah!
Ibunda : sudah…..jangan takut lagi, ayahmu sudah membuangnya.
Ismail : iya ibu!
Ibunda : kamu sudah makan apa belum?
Ismail : belum ibu!
Ibunda : Ya sudah sekarang kamu makan ya…..? apa ibu suapi?
Ismail : iya bu, ibu suapi aku yah?
Ibunda : ya sudah, sekarang ayo ikut ibu ke dapur.
Ismail : iya bu. (keluar bersama)

Di hari berikutnya Ibrahim ayah Ismail kembali mimpi buruk seperti semalam dan malam sebelumnya. Tiga kali Ibrahim mendapat perintah menyembelih anaknya Ismail itu. Ia semakin yakin bahwa itu bukan mimpi dari setan, melainkan dari Tuhan. Ibrahim kembali bersedih.
Ibrahim : kenapa mimpi itu datang lagi? Apa itu benar-benar perintah? Lalu bagai
mana nasib anakku nanti, bagaimana istriku nanti. Aku siap saja, jika itu benar-benar perintah Tuhan, tapi kenapa mesti anakku Ismail, kenapa tidak yang lainnya? Ismail anak ku satu-satunya, kebanggaanku, kecintaanku, kasih sayangku. Kenapa Tuhan……..?
Ibunda : ayah……kenapa ayah menangis lagi? Apa ayah mimpi buruk lagi
seperti kemarin?
Ibrahim : iya istriku, apa kamu rela anak kita disembelih, jika itu benar-benar
perintah dari Tuhan?
Ibunda : aku tidak rela, tetap aku tidak rela, walau aku di karuniai anak lagi!
Ibrahim : tapi ini salah satu ujian buat kita, seberapa iman kita pada Tuhan. Apa
sebatas kekayaan kita, harta kita? Begitu rendah sekali iman dan taqwa kita pada Tuhan.
Ibunda : tapi kenapa harus Ismail yang menjadi korban, kenapa? Apa itu
jalannya? Kan masih banyak cara atau perintah lain, misalnya saja seluruh kekayaan kita di perintahkan di sedekahkan kepada fakir miskin, rumah kita di gunakan penangpungan anak-anak yatim. Kenapa harus menyembelih Ismail?
Ibrahim : mungkin itu harta kita yang paling berharga. Sehingga Tuhan ingin
mengambilnya dari kita. Tapi ini mungkin karena aku dulu pernah berkata “1000 ekor domba dan 100 ekor onta itu adalah bukti kecintaanku pada Tuhan. Bahkan, jika Tuhan menghendaki lebih dari itu. Aku akan tetap memenuhinya”. Mungkin sebab itu Tuhan mengambil Ismail!
Ibunda : iya ayah, tapi aku tetap tidak rela.
Ibrahim : sudahlah istriku, ini sudah keputusan Tuhan, kita harus menjalankan
perintah-Nya, kalau kita benar-benar beriman dan bertaqwa kepadan-Nya.
Ibunda : baiklah kalau begitu, aku akan memanggil Ismail. (keluar)
Ibrahim : Salman……! Salman! Kemari.
Salman : ada apa tuan?
Ibrahim : tolong ambilkan golok yang biasa kamu gunakan untuk menyembelih
domba dan onta itu.
Salman : baik tuan, tapi untuk apa tuan?
Ibrahim : kamu tak perlu tahu, kamu sekarang ambilkan saja.
Salman : baiklah tuan! (Keluar)
Ibunda : ini Ismail ayah. (tersedu menangis)
Ibrahim : anakku Ismail.
Ismail : iya ayah!
Ibrahim : ayah mendapat perintah dari Tuhan, ayah harus menyembelih kamu.
Tuhan menguji keimanan dan ketaqwaan ayah dan ibu. Ayah berat melepaskanmu nak.
Ismail : kalau itu memang kehendak Tuhan, Ismail siap melakukan apa yang di
perintahkan itu ayah.
Ibrahim : kamu rela nak?
Ismail : iya ayah, aku rela.

Datanglah Salman membawa golok.
Salman : ini tuan goloknya!
Ibrahim : taruh di situ.
Salman : iya tuan.
Ibrahim : sekarang, kamu ikut ayah nak.
Ismail : baiklah ayah. (Beranjak pergi membawa Ismail dan golok)
Salman : tuan…..tuan….!
Ibunda : jangan…….jangan……..!

Seketika itu, suasana menjadi gemuruh penuh peluh. Jerit tangis Ibunda dan para pembantunya tak bisa menahan tekat Ibrahim, ratapannya terucap sia-sia. Tapi apa kehendak Tuhan pada hambanya yang bertaqwa dan beriman sepenuh dan setulus hati. Tuhan mengganti Ismail saat disembelih dengan seekor domba. Betapa terkejutnya Ibrahim, dan bahagianya, anak yang dicintainya tidak mati. Begitu juga keluarganya sangat bahagia mendengar Ismail tidak mati. Bertambahlah kecintaan pada Ismail dan keimanan serta ketaqwaan Ibrahim, Ibunda dan pembantu-pembantunya.

Sekian



20 April 2009
Terong / Mbureng.

0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More