Rabu, 27 Juli 2011

Hantu cibuk

HANTU CIBUK

Dipondok cak jahlun, konon setiap ada santri yang kejeding malam-malam, pasti diganggu mahkluk halus, biasanya dengan suara “cak pinjem cibuknya” dan yang tampak hanya tangannya saja.
Pas malam jum’at kliwon jam 01.00 pagi, cak jahlun terbangun dari tidurnya, dan merasa perutnya mules.
“waduh! Mules……..! sakit banget. Adu…….h!”gerutu cak jahlun
“ton, toni! Bangun. Anterin kejeding donk….!” Pinta cak jahlun sambil membangunkan toni.
“ada apa sih……!” jawab toni malas.
“anterin aku kejeding donk!” cak jahlun.
“ogah ah…..! males. Masak kejeding sendiri aja takut” kata toni sidikit sadar.
“ton…ton…! Yah…..tidur lagi…!” cak jahlun.
Terpaksa cak jahlun pergi kejeding sendirian dengan penuh rasa ketakutan dan sedikit merinding, karena teringat cerita santri-santri lama. Setelah keluar kamar, cak jahlun langsung masuk jeding dengan cepat.
“semoga saja nggak ada apa-apa” doanya dalam hati.
Selang beberapa menit kemudian terdengar suara “cak pinjem cibuknya “ terlihat bayangan hitam dekat pintu jeding. Kontan saja cak jahlun cepat keluar tak sempat cebok dan lari terbirit-birit sambil teriak “setan…………..setan………”
Bayangan itu pun teriak “cak….cibuknya ketinggalan……….!” Ternyata bayangan itu cak andi anak buah pak kyai yang sering kejeding malam-malam. TER

INI KACANGKU……….!

Salah satu kebiasaan santri dipondok adalah jika habis pulang kampong membawa oleh-oleh. Tak lain santri dipondok cak jahlun mondok. Ada salah satu anak sekamar cak jahlun yang kebetulan dating dari kampong dan membawa tas yang isinya pakaian dan jajan. Setelah terlihat ia masuk ke kamar, kontan anak-anak seisi kamar pada nyalamin dia dan sambil bercanda “jajanya…ayo keluarin!”
Andi bersalaman sambil ngomong “ayo cak…..buka sekarang aja jajannya”
Jawab anak yang baru datang “iya…iya….! Sabar! Nih….1” sambil ngeluarin sebungkus plastic kacang atom.
Kontan anak-anak pada berebut. Karena mereka nggak sabaran, bungkusnya pun sobek dan isinya berhamburan kelantai. Pas anak-anak pada nyari kacang yang berhamburan, keluar ide andi untuk ngerjain anak-anak. Diambilnya satu kacang atom dan dimasukkannya dalam hidung, lalu melemparkanya ke dekat pintu.
Tak lama kemudian dating cak jahlun yang mendengar berisik dikamarnya, “pasti ada yang baru dating” pikirnya. Kaki cak jahlun menginjak masuk kedalam kamar, dan ditemui dedekat pintu ada kacang atom nyasar. Langsung aja cak jahlun memakannya sambil ngomong “ini kacangku…….!” Sambil senyam-senyum.
Andi yang melihat kacang jebakannya ada yang makan, langsung ngomong “kacang upil…….!” Sambil tertawa terbahak-bahak, begitu juga anak sekamar yang mendengarnya. TER

ATAS JANGKRIK

Jahlun adalah santr baru pondok salaf, dia anak yang sangat nakal sewaktu di rumah. Makanya ibinyu memondokkan jahlun agar tahu sopan santun dan jadi anak yang baik. Tapi karena dia masih baru, kenakalannya masih melekat pada dirinya.
Di pondok itu, ada salah seorang kyai yang hobinya melihat dan menikmati panorama alam yang ada di sekitar pondok. Dan biasanya sang kyai setiap sore berdiri di sebuah serambi lantai dua tempat untuk belajar ngaji diniyah. Tepat di sebelah kiri gedungitu, terdapat sebuah tiang jemuran yang terhubung kawat sebagai tempat pakaiannya. Dan kebetulan waktu itu jahlun menjemur pakaiannya dari pagi, tapi tak kunjung kering, karena cuaca yang tak menunjukkan panas matahari.
Seperti biasanya sore mulai dating, sang kyai pun berdiri tegak di serambi atas seraya menikmati alam dan rokok kreteknya. Tibi-tiba gerimis dating tanpa diundang, kontan saja jahlun langsung mendatangi jemurannya. Tapi sesampai jahlun di jemuran itu, tiba-tiba gerimis reda. Dengan sedikit jengkel, jahlun membiarkan jemurannya, pikirnya “sapa tau nanti kena ingin terus kering”
Akhirnya dia memutuskan kembali kekamarnya. Selang tujuh llangkah , tiba-tiba gerimis kembali turun. Dengan cepat pula ia kembali ke tempat jemuran. Tapi lagi-lagi hujan reda, dan itu sampai terjadi berkali-kali. Dengan perasaan yang amat jengkel ia berteriak “hey yang duatas…..jangkrik”. kontan sang kyai yang berada diatasnya langsung melempar jahlun pakai sandal. Jahlun tambah emosi lalu “jangkrik….” Seraya melihat keatas. Setelah dia sadar yang diatas ada sang kyai, jahlun langsung lari tanpa memperdulikan jemurannya. Sang kyai berkata “santri gendeng”.




By : Teater Mbureng.

0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More