DIMANA DAMAI
Di sebuah kampus yang menyandang nama ulama’ besar semakin hilang barokah dan kewibawaannya. Kedamaian dan ketentraman yang pernah ada hilang berangsur bersama semilir waktu yang makin membuta. Penderitaan kampus di rasakan tiga sosok menjijikkan yang menyesali akan semuanya.
Sosok I : kampus, kampus, kampus ku, bukanlah kandang wedus.
Sosok II : kampus, kampus, kampusku, bukanlah sarang tikus
Sosok III : kampus, kampus, kampusku, bukanlah sebuah kakus
Sosok I : kyai, kemana engkau pergi, namamu yang harum dulu, kini hanya tinggal percikan minyak wangi dalam lautan
Sosok II : kyai, barokahmu kini ada dimana? Aku tak sedikit melihat rupanya
Sosok III : kyai, apa tutur nasehatmu sudah habis, hingga aku tak dapat bagian
Sosok I : aku, aku tak sanggup lagi, bertahan hidup dijaman ini, aku tak sanggup (menangi dan bersedih)
Sosok II : tenanglah kawan, aku juga tak lagi sanggup, tapi apa yang dapat kita lakukan, kita ini sampah, tak berguna, tak berarti
Sosok III : benar teman, kita ikuti saja permainan manusia, toh mereka juga yang akan menerima akibat dari perbuatannya
Sosok I :tapi aku tak bisa untuk berdiam diri, aku tak tega dengan akhir cerita yang penuh duka, aku tak tega….(menangis dan bersedih)
Sosok II : benar kawan, aku dukung semangatmu, tapi aku tak bisa membantu
Sosok III : maafkan aku juga teman, aku tak punya daya, aku doakan saja biar semua kembali normal. Kedamaian, ketentraman, barokah, kembali pada kampus ini, kampus ini, kampus ini…………(mematung dang perlahan meninggalkan tempat diiringi lagu iwan fals)
Memetik gitar dan bernyanyi
Pada waktu tak bertepi
Diatas langit dibawah tanah
Dihembus angin diseret arus
Untuk saudara tercinta
Untuk jiwa yang terluka
Dengarlagu suaraku hilang
Sebab hari semakin bisik
Hanya bunyi peluru diudara
Gantikan denting gitarku
Mengoyak paksa nurani
Jauhkan jarak pandang
Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta
Walau aku tahu tak terdengar
Jariku menari tetap takkan berhenti
Sampai wajah tak murung lagi
Amarah sempat dalam dada
Naman akalku menerka
Ku bernyanyi di matahari
Ku petik gitar dirembulan
Dibalik bening mata air
Tak pernah ada air mata



0 Coment:
Posting Komentar