Rabu, 27 Juli 2011

Budayaku

BUDAYAKU
Karya : Teronk (Teater Mbureng)

Di sebuah jalan yang sepi, tampak seorang pengamen dating dan duduk termenung merasa heran dengan dunia zaman sekarang. Dalam kebimbangannya itu dia bertanya pada dirinya sendiri.

Pengamen : Hidup di Negara ini, bagai debu tanpa api. Hidup di negaraku, bagai kayu
yang telah rapuh. Aku juga begitu merasakan, mungkin semua yang disini merasakan itu? Tapi aku tak tahu, itu hak kalian, merasa atau tidak, semakin hari, semakin bingung dan resah. Apalagi hidup di masa-masa sekarang ini.

Pengamen : Coba kita lihat, betapa kaya alam kita, betapa indah alam kita, gunung
menjulang tinggi dengan warna hijaunya pepohonan bagai zamrut. Hutan-hutan yang lebat mengayomi masyarakat, polusi, lewat! Dan kehidupan di negaraku yang dulu permai, sekarang semakin lramai tak terarah. Namun dulu memang masa-masa susah dan gelisah, kini telah merdeka!

Pengamen : Ah…….! Tak perlu mengingat masa lalu yang suram. Yang penting
sekarang, masa sekarang dan akan dating. Ngapai mengingat sejarah, kalau sejarah bikin susah. Ya tho……? (duduk) kita jalani saja dengan apa adanya,dengan zaman yang tak pantas dielok / ditiru yang bersifat negatif!

Pengamen : Aku hampir setiap hari ngamen pasti ketemu cewek yang bodinya……
aduhay………seksi…….dengan pentolan yang menon…….hehehe (tertawa). Tapi mau gimana lagi? Rezeki jangan ditolak, kata pak ustadz Sanusi. Hehehe (tertawa) sok pinter! Apakah ini yang dimaksud zaman modern, kalau ngamen masih menjadi profesi masyarakat kecil Indonesia? Indonesia kan Negara berkembang, menurut pelajaran IPS dimasa aku masih sekolah dulu………

Pengamen : Seingatku….eh sudah jelas Indonesia kaya dengan budayanya, pakaian
adat beranekaragam, tarian, suku, bahasa, kekayaan alam, bahkan katanya Indonesia itu percikan surga. Tapi kenapa rakyat seperti aku ini tetap saja mlarat, tak pernah menghirup udara segar dari hutan-hutan yang sejuk. Kenapa aku, kamu dan hampir semua orang Indonesia tak pernah memakai pakaian asli buatan Indonesia sendiri, kan banyak pakaian sopan santun yang layak dipakai, bukan pakaian minim yang memperlihatkan segala-galanya, yah missal buah dada, puser, bokong……hehehe kok malah kesitu pikirannya. Hehehe (tertawa). Hey para cewek-cewek Indonesia telanjanglang sekalian kamu, niscaya kamu akan terkenal. Itu surat porno ayat bebas yang saya buat. Kalau tidak percaya coba saja! Pasti akan trend dan merasa gaul getoch….hehehe (tertawa)

Pengamen : Kita lanjutkan pembahasan. Kembali ke laptop! Kayak Tukul aja
hehehehe (tertawa) sekarang kita membahas tentang tari dan musik. Tari di Negara kita beragam, tapi kenapa dancer…..eh dansa ya? Iya iya dansa yang lebih di gandrungi, joget ala gulung-gulung alias apa itu hip-hop apa RNB itu kesenengan anak muda sekarang, sedangkan tarian-tarian dulu masih trend kok. Terus lagu-lagu Barat yang saya kira tidak tahu maksudnya dan maknanya lebih disenangi, musik rock mini, eh rock man….., punk, underground atau apa lah….. lebih di sukai. Kenapa tidak musik dangdut, campursari atau apa karya bangsa sendiri. Katanya sich. Itu kuno………! Ndeso…….! Katrok…….!

Pengamen : Alah….. masa bodo dengan semua itu, yang penting aku bias makan dari
gitar kesayanganku ini. Terserah kalian mau telanjang, gulung-gulung, apa aja terserah kamu, biar negaraku panas kiamat sekalian kalau perlu aku tak peduli, kalian lebih pintar dari aku, aku hanya lulusan S1 alias SD, aku hanya sampah. Yang taunya getuk buatan emak ku. Hehehe (tertawa) jadi inget makan nich….! Ealah mumpung ada recehan, mending aku buat ngopi dan ngisi perut ae lah….. dah empat hari nggak makan enak e……!

Tak berselang lama, kemudian lewatlah cewek dengan pakaian seksinya. Dan tiba-tiba dia mendengar suara aneh yang tak dia ketahui, asalnya dari warung itu.

Cewek : Heh……. siapa itu…..! gak tahu sopan santun, gak pernah lihat cewek
cakep n seksi ya……! Dasar……..norak loe.. Untung aku lagi sendiri n lagi sabar, kalau aku bawa temen-temenku n lagi mut pengen nggebukin orang, udah ku hajar sampai modar kamu! Ups…….! Heh (menoleh kebelakang)

Pengamen : Bukannya mbak yang gak tahu sopan santun? Makek baju kekecilan, apa
mbak gak punya malu dengan kucing tho? Sok jantan nggebukin orang! Heh! (tertawa sinis)

Cewek : Sembarangan kalau ngomong. Ini model zaman sekarang, seksi, gaul…..
hehe (tertawa) dasar ndeso. Justru pakaian init uh jadi kebanggaan kaum remaja sekarang tau…….! Dari segi kualitas pun udah nggak diragukan donk…..! Hay penonton, kalian lihat nggak sich?, penampilannya, gayanya cara ngocehnya. Hanya mempermalukan bangsa kita, tapi… Maklum………orang berpendidikan rendah. Orang tak mengerti apa itu sopan santun, apa itu busana gaul, apa itu modernisasi, ah……ngapain ngomongin semua itu, dia nggak bakal paham, percuma, ngabis-ngabisin tenaga aja. Heh, makan tu receh, ngamen sampek mati……….! Heh! zaman sekarang emang masih musimnya orang ngamen ya…..! kece kale (keluar dengan cuek)

Tak berselang lama, kemudian si pengamen bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempatnya tadi mangkal.

Pengamen : Gini……ni cewek zaman sekarang, gaul lah, seksi lah, sok jantan lah,
begini lah, begitu lah, taek. Untung aku lagi sabar, untung aku lagi sendiri, kalo aku lagi mut pingin nggebukin orang, udah babak belur, modar! Dasar pengamen, dasar kere, dasar tetek mbengek. Aku ini pengemen yang sabar, tak ambil pusing dengan ocehan-ocehan pedes, pahit. Tidak enak, apek atau apalah……! Yang penting aku dapat hidup dan bersyukur dengan adanya takdir seperti ini!

Pengamen : Tapi aku heran, tadi cewek berpendidikan apa tidak yah? Kok sikapnya
kayak pelacur, dia cewek baik-baik atau nggak, sok ngajar-ngajar orang se-enak mulutnya, se-enak hatinya. Saudara-saudara sekalian, ini tadi adalah gambaran nyata kaum muda-mudi zaman sekarang, yang sudah menjadi korban adanya modernisasi…alah boso apa iki, sudah sangat jelas dari segi perilakunya bagai binatang yang merasa terhormat, merasa gaul, modern, seksi. Dia tidak memandang kalo dia hidup di Negara yang kaya budaya seperti ini, dia tidak melihat dirinya dan perilakunya sendiri. Saya yakin orang tuanya pasti menangis melihat tingkahnya, saya yakin para pahlawan merasa menyesal, mewasiatkan kemerdekaan, memperjuangkan kemerdekaan demi kehidupan bangsa dan Negara tercinta kita, agar lebih baik dan makmur, agar lebih terhormat. Tapi semua yang para pahlawan harapkan, sirna ditelan modernisasi, hilang bersama kemajuan zaman yang merubah jati diri bangsa kita. Pemirsa, mari kita perbaiki apa yang tidak sesuai dengan adap bangsa kita yang sesungguhnya. Bersama saya, pengemen jalanan. Majulah bangsa Indonesia! Yang kaya akan budaya dan tradisi yang masih kental sifatnya. (gaya presenter)

Pengamen : Pantes juga jadi penyiar TV, tapi mana ada acara TV yang nyaranin
kebaikan, rata-rata acara sekarang nggak pantes dilihat, mulai dari pakaian, cara bicara, tarian, cara bergaul, apa itu cipika-cipiki, cium pipi kanan kiri tanpa risih, alah bodoh, aku hanya pengamen, aku hanya orang kere, aku hanya orang kecil, aku hanya orang bawahan, di injak, di caci, di ludahi, di singkirkan bah sampah. Tapi aku juga manusia biasa, normal, aku juga inin kata-kataku didengar orang jika sekiranya baik. Heh! (merenung) sebagai rakyat Negara yang berbakti dan masih ingin membawa budaya yang perlu dibanggakan sebagai khas dari pada negaraku Indonesia ini!

Pengamen : Tapi, sampai kapan pun aku tetap begini, kata-kataku bagai angin bau
busuk, siapa yang menghirup pasti tutup hidung, ucapanku bagai suaga remuruh, siapa pun yang mendengar, pasti menutup rapat-rapat telinga. Hey penonton, para pendengar semua. Ambil kata-kataku yang bermanfaat, buang ucapanku yang tak berguna. Aku pesan kepada kalian semua, tinggalkanlah gengsi dengan tradisi asli, mari kita kembali menjadi pewaris tradisi bangsa, nenek moyang kita, mari kita kembalikan jati diri kita sebagai bangsa yang sopan, bangsa yang santun. Banyak orang asing menyukai budaya kita, kenapa kita justru merasa gengsi, malu atas apa yang diwariskan kepada kita, penerus bangsa. Apa jadinya Negara ini, jika pemuda-pemudi hanya jadi budak-budak kebudayaan asing, penggandrung gaya asing, model, tata cara bergaul. Kembalilah pada jati diri kita yang sebenarnya. Majukan terus budayaku, budaya kita budaya bangsa Indonesia tercinta. Sekian dan terima kasih.


Selesai

Judul Naskah : Budayaku
Karya : Teronk (Teater Mbureng)
Sutradara : Wahyu
Pemain : Jakfar (Teater Alief)
Crew : Rahmadani
Fikri (Make-Up)
Saifudin (Musik)
Anam (Busana)









Sinopsis

BUDAYAKU


Dizaman sekarang mode busana semakin berfariasi dengan model apa saja dapat ditemui di masyarakat, terutama di Barat yang dikenal dengan kebebasanya. Bebas berbusana, bebas bergaul, bebas berkencan dan hampir bebas segala-galanya. Lalu bagaimana dengan bangsa kita, Negara kita? Masihkah ada yang mau memakai kemben, masihkah sopan santun pemuda/i terdengar setiap hari, masihkan rasa sungkan pergaulan pemuda dan pemudi ada? Hampir punah, itu menjadi barang antik yang yang amat jarang ditemui.
Dari rasa dan tanya itulah, muncul cerita ini. Seorang pemuda yang tak pernah mengecam pendidikan (Kecuali SD) duduk di pinggir jalanan yang agak sepi. Dia berprofesi sebagai pengamen, sering berfikir, bertanya dan heran pada anak muda zaman sekarang. Pakaian yang menonjolkan bagian tubuh tertentu, pergaulan yang tanpa batas menyebabkan banyaknya cewek seusia sekolah yang tak lagi perawan, pacaran yang dijadikan hal wajar dan gaul, adopsi ertambah ramai, pemerkosaan bertambah banyak, pencabulan semakin meningkat dan masih banyak lagi pelecehan seksual yang gencar dimasyarakat.
Dia terus bertanya dalam keheranan, ditambah lagi kaum miskin yang termajinalkan, tak dimanusiakan, dianggap sampah atau apalah tapi itu kenyataannya. Pemerintah beradu politik tanpa memperdulikan rakyat, hanya janji yang diobral. Tapi itulah kenyataan di Negara kita.
Ketika sedang asyik mempertanyakan keheranannya pada diri sendiri, tak terasa ia bosan juga, mungkin karena kelelahan habis ngamen muter kota berpijak bus-bus yang siap menghantarkannya. Tak berselang lama dia duduk bersandar di sebuah warung pinggir jalan itu.
Disaat istirahatnya, lewatlah seorang cewek dengan pakaiannya yang seksi. Tanpa basa-basi ia langsung menggodanya dengan siulan. Kontan si cewek heran dan merasa tersinggung, tanpa pikir panjang di gertaknya dia “hey, kurang ajar banget sih kamu! Siapa sih kamu, cuma ada suara doang, setan kali yee! hih” jawabnya “orang tau”.
Dialog mereka terus berlanjut, si cewek merasa nyaman dengan penampilannya, pergaulannya dan kenyataan yang ada sekarang. Sedang dia pengamen berusaha menjatuhkan sekenengannya itu dengan kata-kata yang membuat dia terkejut dan heran. Tapi lama-lama si cewek risih juga, tanpa piker panjang dia mengucapkan kata-kata menghina dan lang sung meninggalkannya.
Kembali muncul si pengamen itu dan bertambah heran dengan sikap cewek tadi. Tapi apa mau dikata, beginilah gambaran bangsa kita yang lebih membanggakan budaya Barat (kebebasan). Keherannannya terus bertambah tinggi hingga mungkin tak terukur lagi. Dalam pertanyaannya itu, ia beranjak pergi dari tempat itu.

Sekian





BUDAYAKU




Teater Alief
Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah
Tebuireng-Jombang








Budayaku
Karya : Teronk (Teater Mbureng)
Sutradara : Wahyu
Pemain : Jakfar Shodiq SHofa (Teater Alief)
Crew : Saifudin
Fikri (Make-Up)
Saifuddin (Musik)
Anam (Busana)

0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More