Rabu, 27 Juli 2011

Bisikan cermin

BISIKAN CERMIN

Seorang pemuda bungkuk yang meratapi nasibnya. Ia seakan tak mau menerima akan fisik yang di amanatkan sang PENCIPTA untuk selalu mensyukuri dan menabahi akan amanat itu. Dahulu ia tak pernah se gila ini, dulu ia selalu menerima apa yang diberikan-Nya, tapi setelah ia menyukai seorang putri yang anggun rupawan sempurna tak ada cacat, dan cintanya di anggap angina lalu oleh sang putrid, ia sering marah, kecewa, putus asa, tak karuan sikapnya, bahkat Tuhan dicacimakinya.
Disuatu malam yang amat gelap di sebuah gubuk lusuh, reotnya yang seakan tak mampu menahan genting-genting jeraminya. Sibungkuk membawa sebatang lilin yang redup menyinari buram ruang gelap gubuknya tepat diruang tengah yang hanya ada meja dan kursi tua warisan orang tuanya yang meninggal ketika ia berumur 10 tahun.
“ah…………..malam ini dingin sekali” sembari merogoh kantong mencari korek api.
“korek api……….dimana korek api……..! dikantong………..tak ada………dimana kau korek api…………oh iya…….di belakang………di dapur…….” Melangkah kebelakang.
“korek api……dimana kau kawan………..ah…….ini dia……..kenapa kau sembunyi dariku………..ayo ikut aku……..bantu aku sedikit menyalakan lilin……….” Kedepan.
“ah……………….kanapa kau tak mau menyala……….! Ayolah korek api……….bantu aku sekali ini saja……aku berjanji kali ini terakhir kau ku peras energimu………..! ayolah menyala………..” berusaha menyalakannya.
“ayolah……….kawan……..bantu aku……….apa kau tak percaya janjiku……….! Nah……….itu baru kawanku……….terimakasih kawan……….sekarang pergilah ke tong sampah…………” membuang ke tempat sampah.
“lapar………… lapar sekali aku………… tak ada nyamuk……….. lalat…….. cicak……… tikus……. Semua tak ada lagi yang mau memberimu kenyang perutku…...” seketika mendengar suara jangkrik “serangga……..jangkrik……..he…he….he….. akan ku makan kau jangkrik………dimanalau………kemarilah………. Ayo kemari………. Berilah kenyang pada perutku………..nah…… mau lari kemana kau serangga……… jangkrik…….! Jangan lari……..kemarilah………..” ayolah……! Beri aku sedikit rasa kenyang…..! jangan lari. Ah, mau kemana kau, kena kau sekarang. Kau akan ku panggang, tak perlu ku beri garam, kecep, saus atau apalah penambah rasa makanan yang tak memberikan arti. (membakar jangkrik ke api lilin) Cukup hanya dengan api lilin kau sudah dapat ku nikmati. Hahaha! Dasar jangkrik bodoh, nah, sekarang kau matang, (memakan jangkri itu). Nikmat, nikmat sekali kau jangkrik, kalau tahu kau begitu nikmat, tak perlu aku susah payang mencari tikus, lalat atau apalah itu, binatang-binatang yang tak begitu nikmat. Apa lagi sekarang, ah tak perlu ku memikirkan dunia yang tak ada arti.
(Duduk termenung meletakkan kepalanya kemeja, tiba-tiba terlihat sinar bulan tepat mengenai meja dan kepalanya). Apa itu, hah, sang putri, apa benar itu sang putri apa ini mimpi (mengucek-ucek matanya) benar, dia sang putri. Wahai sang putri, kenapa kau datang padaku, apa kau tak salah datang kemari, apa aku yang mimpi, kenapa kau kesini, kau menerima cintaku, atau kau ingin mengusirku? Jawab lah sang putri, kalau kau tak mau menjawab, itu tandanya kau menerima cintaku, ayo jawablah! Ah, hahaha! Kau telah menerimaku, tapi apa kau tak salah, kau lihat sendiri, betapa buruknya mukaku, betapa cacatnya badanku, betapa rusuhnya diriku, cobalah kau pikirkan kembali keputusanmu. (mengucek-ucek matanya) ah, itu bukan putri, itu bukan sang putri, itu bulan, bulan, bulan. Kenapa kau bulan, ingin mengejekku, aku tahu siapa aku, dan aku tau siapa dia, jangan kau berdiam disitu, pergilah kau bulan, pergilah, aku tak sudi kau temani, aku tak sudi kau temani, aku ingin sendiri, pergilah, pergi…….! Kenapa kau diam saja, cepatlah kau pergi. Ah, terserah kau lah bulan, biar aku yang diam, (kembali meletakkan kepalanya kemeja dan setelah beberapa saat kembali melihat langit) kemana kau bulan, cepat sekali kau pergi, cepat sekali kau menghilang, tak apalah, itu lebih dapat membuatku tenang. Wahai sang pencipta malam, sang pencipta gelap, ijinkan aku bersahabat dengan malam dengan gelap dengan sepi, sunyi, sendiri, aku ingin selalu berkawan dan bersahabat dengan mereka semua. Berikan kenikmatan hidup yang lepas dan bebas dari keramaian, kegaduhan, cinta, manusia, dan semuanya. Biarkan aku disini, di tempat ini, tempat yang penuh ketenangan, ketenangan dan ketenangan. Biarkan aku hidup dalam kesendirian, biarkan aku mati dalam kesunyian, biarkan jasadku berkafan debu, biarkan kuburku bernisan batu, dan biarkan aku tertimbun jerami-jerami yang setia melindunguku, dari panas dan hujan setiap waktu, dari dingin panas hawa alam yang tak mau bersahabat denganku.





By : Teater Mbureng.

0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More