Rabu, 27 Juli 2011

Bancian celetong

BANCIAN TLETONG

Dipondok pesantren terutama pondok salaf, biasanya terdapat bancian ( batu atau cor-coran semen )yang menghubungkan kamar satu dengan yang lain, dan juga menghubungkan kamar dengan masjid dan jading wudlu..
Begitu pula di pondok cak jahlun berada. Dipondok cak jahlun, sang kyai gemar memelihara binatang-binatang ternak seperti sapi, kambing, ayam, angsa dan lain sebagainya. Dan biasanya binatang-binatang pondok,itu dibiarkan berkeliaran kemana saja terutama di lingkungan pondok. Tak jarang binatang piaraan kyai itu berak di serambi kamar santri, serambi masjid bahkan dihalaman atau di jalan dalam
Cak jahlun adalah santri yang rajin berjamaah, tapi dia sering terlambat dalam rokaat pertama, kedua bahkan tak jarang ketinggalan tiga rokaat. Begitu pula waktu jamaah isya’ yang terakhir ini. Cak jahlun mendengar iqomah telah dikumandangkan, setelah dia sudah siap berjamaah, tiba-tiba perutnya mules.
“ aduh……….! Perutku……..! berak dulu ah………….! ” ngomongnya santai.

Dan tanpa piker panjang cak jahlun langsung berlari menuju jading atau WC. Setelah beberapa langkah, hatinya terbuka “ aku harus jamaah ” pikirnya. Akirnya cak jahlun bertekat untuk mempercepat beraknya dengan tenaga ekstra mengeluarkan beolnya dengan cepat. Selang dua menit dia sudah merasa lega, ak jahlun langsung mengambil air wudlu dan dengan langkah agak terburu-buru dia melewati satu persatu bancian yang menghubungkannya kemasjid. Karena terlalu terburu-buru mengejar jamaah, dia tak melihat bancian-bancian itu dengan teliti. Asal ada kelihatan seperti batu, ia loncati. Pas kurang 3 bancian penghubung ke masjid, ada gumpalan besar yang dikiranya batu, tapi ternyata pas diloncatinya “ waduh……………………tletong! Sial…….! ” ternyata yang diinjaknya tletong ( kotoran sapi ), kontan saja sebagian santri yang melihatnya tertawa. TER

SUJUD TAHI CICAK

Cak jahlun adalah seorang santri yang gemar sholat jamaah. Dia selalu berhati-hati dalam mengerjakan sholat, baik bacaannya, doanya bahkan dalam gerakann sholatnya. Tapi dia paling suka sholat di pojok depan. Biasanya di atap pojaok masjid, banyak cicak-cicak yang mencari mangsa. Kadang cicak-cicak itu buang kotorannya dopajoak. Tak jarang cak jahlun membersihkan tai cicak yang ia temui dipojok-pojok masjid.
Waktu cak jahlun sholat jamaah isya’, seperti biasa cak jahlun menempati tempat istiqomahnya, yaitu dipojok depan. Seperti biasa dia selalu hati-hati dalam mengerjakan sholat atau bias dikatakan kusyu. Dia juga tak menyadari diatasnya ada seekor cicak yang bersiap mencari mangsa. Begitu kurang ajarnya cicak itu, dengan tenang sang cicak mempersembahkan sebuah hadian buat cak jahlun, berupa setitik kotorannya, tepat di tempat sujud cak jahlun. Tapi karena cak jahlun terlalu kusyunya dalam sholat sambil memejamkan mata dia mulai bersujud mengikuti imam. Pas dahinya menyentuh lantai, dia merasa ada sesuatu yang mengganjal, sehingga dia tidak konsen dan sedikit dia cium………………………………………… “ sial…….tahi cicak ” pikirnya dalam hati. Langsung saja cak jahlun keluar masjid dengan perasaan jengkel sambil menggerutu “ sujud dapat tahi…….! ” TER
WC LANCIP

Santri pondok tidak semuanya berasal dari anak baik-baik, ada sebagian yang dirumah nakal, suka mencuri, suka berani sama orang tua atau yang lainnya. Begitu juga di pondok Cak Jahlun tinggal. Sedangkan Cak Jahlun adalah santri baik yang suka dikerjain santri yang bandel.
Dulu Cak Jahlun sering dijadikan kambing hitam oleh temannya santri yang lama. Tapi saat ini juga masih belum juga mendapat nasib bagus. Tapi dia masih terus berjuang untuk mencari ilmu agama.
Saat petang mulai datang, Cak Ipul yang suka ngerjain anak-anak, punya ide bagus, dia mencari sandal bekas dan dipotong bundar. Lalu potongan itu ditaruhnya di dalam WC, setelah diberi satu batang sapu lidi di tengahnya.
Kebetulan saat itu Cak Jahlun sedang kebelet berak. Melihat WC yang terlalu sepi karena anak-anak banyak yang ngaji ba’da mahgrib.
“Waduh mules……,libur dulu ngajinya ah…..!”
Melihat WC kosong semua, dia langsung masuk WC yang paling pojok dan dekat kamarnya. Tanpa pikir panjang dia masuk WC itu tanpa bawa llin atau penerang. Setelah buka sarung, dia langsung duduk dengan pantat yang tepat di tengah lobang WC. Tiba-tiba……………..
“Kucing! WCnya gigit pantatku……” teriaknya latah.
Tapi untung saja Cuma Cak Ipul yang lihat, jadi dia tertawa terbahak-bahak.

KRIPIK JAROT

Jahlun adalah santri baru dari Jakarta. Di pondoknya yang terletak di suatu daerah jawa tinur tepatnya di jombang. Kebiasaan dari santri lama yang suja ngerjain santri baru, terutama santri dari luar jawa atau santri yang tak tahu bahasa jawa.Begitu juga Jahlun yang tak paham bahasa jawa jadi sasaran Udin santri lama di kamarnya.
“Hey kamu kemari……” Udin.
“Ada apa cak…” Jahlun.
“Tolong kamu belikan kripik jarot di warung belakang” Udin.
“Kripik apa itu cak?” Jahlun.
“Sudahlah kamu langsung tanya penjualnya, biasanya ada di dalam kardus roti” Udin
“Ya cak.” Jahlun
Dengan penuh pertanyaan dalam hati Jahlun terus melangkah ke warungyang di tuju. Dan dia langsung bertanya pada penjualnya.
“Pak ada kripik jarot pak?” Jahlun.
“Apa….siapa yang nyuruh”



By : Teater Mbureng.

0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More