Kamis, 18 Desember 2008

Naskah Drama

POLITIK GILA

BABAK I

Dijaman serba nggak karuan dimana kursi pejabat, presiden, gubernur, bupati, lurah atau kursi-kursi yang lainnya semakin diperebutkan baik secara sportif atau nggak. Ini membuat kami prihatin dan rasa prihatin kami ini, kami dalam bentuk pentas drama. Berikut cerita singkatnya:
Disaat pencalonan gubernur dimulai, ada dua calon yang saling bersaing, menjatuhkan baik dalam persaingan yang wajar atau tidak. H Ahmad Royal Janminder Si. LEt. adalah calon gubernur dari Partai Koplak yang suka menjatuhkan atau bersaing dengan H Karjo Karji Subroto SH. Em. Pk. Dari Partai Kaplok.
Intinya mereka calon gubernur Propinsi Ngawur, H Ahmad mencoba bersaing secara tidak sehat dengan mengirim santet kepada lawannya begitu juga lawannya. Tapi apa yang terjadi? Mereka tidak kena santet, tapi anak mereka berdua yang kena.
H. A : sungguh kesempatan yang bagus, kali ini aku harus menjadi gubernur di propinsi ini, bagaimana anakku?
S. A : itu kesempatan bagus ayah, aku akan membela ayah, walo mati taruhannya. Tapi…bagaimana dengan musuh bapak, saingan bapak? Dia sangat kuat pendukungnya, apalagi dia sudah sukses jadi gubernur tahun lalu.
H. A : alah, dia bisa disingkirkan. Ini tugasmu menyingkirkan dia, kamu sanggup?
S. A : sanggup ayah, tapi situasi saat ini tidak memungkinkan untuk membunuh dia, ini sudah mendekati pemilihan, apalagi banyak orang-orangnya yang berkeliaran.
H. A: kamu ini goblok amat sih, kamukan bisa bayar dukun untuk menyantetnya, gampangkan
S. A : iya…..iya……ya! tapi kemana aku mencarinya ayah?
H. A : dasar goblok……goblok……goblok…..! kamu suruh anterin diki, supir kita itu tahu tempatnya, dia yang biasa nganterkan aku ke dukun.
S A. : duitnya?
H A. : ambil di lemari.
S A. : berapa?
H A. : banyak bacot! Sepuluh juta, itu sudah cukup.
S A. : baiklah aku akan berangkat sekarang.
H A, : ya


Beberapa jam kemudian
S A. :yah, aku bawa ke sini
H A. : eh, nak kenapa kamu bawa kemari dukunnya
S A. : katanya kalo nggak ada fotonya, dia nggak bisa nyanten
H A. : dukun goblok, dukun kelas teri kamu bawa kesini
S A. : ya udah, ayah aja yang ngomong
H A. : maaf ya mbah, saya mau minta bantuan
D U. : ya,,,,,,ya…..ya, saya sudah tahu apa yang kamu maksud, mana fotonya. Kamu ambil, aku mau menyiapkan alat-alatnya
H A, : ya mbah (setelah lima menit) ni mbah
D U. : hem…..baiklah, sekarang mau saya mulai (sambil komat-kamit) jopo-japu tai asu, joma-jamu mani metu, meta-metu setan mbantu, jenenge karjo mati kaku. Buah! (menye,burkan sesuatu ke lilin/umblek). Sudah beres sekarang
H A. : bagai mana mbah
D U. : dia sebentar lagi mati
H A. : terima kasih mbah, sekarang mari makan dulu mbah
D U. : saya masih ada urusan, tapi nggak apa-apa, saya juga sudah lapar, tenaga saya sudah terkuras tadi
H A. : mari mbah ke dapur.
D U. : ya……..ya…ya

BABAK II
H K. : jo, bagaimana menurutmu pak Ahmad itu?
J O. : maksud bapak musuh calon gubernur itu?
H K. : iya, apa pendukungnya banyak
J O. : sebenarnya, sepengetahuan saya hampir sama, tapi
H K. :apa?
J O. : apa tidak kita singkirkan saja?
H K. : maksudmu apa? Diculik, disembuyikan ato dibunuh?
J O. : santet aja pak!
H K . : hah, santet, apa kau tak salah ngomong? Ini jaman modern, santet udah nggak jamannya,
J O. : memang pak, tapi itu cara yang paling aman untuk menyingkirkan Ahmad dari persaingan calon gubernur ini. Apalagi dengan santet, kita tak perlu kwatir jika diungkap siapa pelakunya. Ini akan memburamkan pelaku.
H K. : oiya…….iya……..ya, saya paham dengan yang kamu maksud. Ya sudah, sekarang kamu carikan sendiri siapa, dukun mana, dimana tempatnya, aku serahkan sama kamu, kamu ambil uang yang kamu butukan ke mbak sulis.
J O : terima kasih pak, akan saya kerjakan sekarang juga. Permisi pak,

Beberapa saat kemudian datanglah anaknya
D K. : assalamu’alaikum
H K. : wa’alaikum salam, kok baru pulang, dari mana saja kamu?
D K. : dari rumah temen, tadi pestanya meriah banget, capek aku mau tidur dulu.
H K. : ya sudah tidur sana.


Beberapa saat kemudian datanglah istri pak Karjo
I S. : pak, kelihatannya bapak sudah mulai capek, apa nggak sebaiknya istirahat saja.
H K. : aku nggak terlalu capek, ibu istirahat dulu saja, nanti tak susul.
I S. :ya sudahlah kalo begitu, aku tak tidur dulu, bapak cepet nyusul yah


Tiba-tiba sang anak di kejar bola api (santet)
D K: tolong……..tolong……. (lari terbirit-birit di kejar bola api)
I S.. : diki, kenapa kamu, pak tolongin diki pak…….cepet tolongin dia…..
H K. : iya…..diki…..diki…..
D K : jantungku sakit pak…..rasanya seperti terbakar (mati)
I S. : anakku kamu kenapa nak, bawa ke kamarnya pak
H K. iya bu

BABAK III
H A. : hahaha………semuanya sudah beres, sekarang kemenangan ada di tanganku. Aku akan jadi gubernur Propinsi Ngawur hahaha……

Tiba-tiba anaknya terkena santet juga
S A. : aduh…….tolong……… (dikejar bola api)
H A. : kenapa kamu nak………. (lari mengejar anaknya)


BABAK IV
R y1 : bagaimana menurut kamu, dengan calon-calon gubenur yang nggak ada yang bener itu?
R y2 ; aku sendiri juga bingung, semuanya nggak ada yang bener. Mereka merebutkan kekuasaan dengan segala cara, kayak anak kecil aja
R y1 :……………………..




Sekian

Ket :
H A adalah haji ahmad
S A adalah sanja anak haji ahmad
D U adalah dukun
H K adalah haji karjo
D K adalah diki anak haji karjo
I S adalah istri haji karjo
J O adalah jono tangan kanan pak karjo
R y1/2 adalah rakyat biasa


0 Coment:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More